Gonjang – Ganjing Isu Anti Korupsi berimbas Politis

Saduran :

e-mail Resume Pertemuan Dharmawangsa . (sumber : inilah.com)

Sabtu, (5/12) Pukul 21:28 WIB beredar resume pertemuan di Hotel Dharmawangsa ke milis. Isinya tentang skenario penggulingan pemerintahan SBY. Milis ini diberi judul Resume Pertemuan di Hotel Darmawangsa.

Di dalamnya disebutkan bahwa telah ada pertemuan di Hotel Dharmawangsa. Yang mengejutkan, beberapa nama tokoh penting disebut dalam resume itu. Mereka adalah Prabowo Subianto, Surya Paloh, Suryopratomo, Syafii Maarif, Din Syamsudin, Jusuf Kalla, Yudi Latif, Fajroel Rahman, Ray Rangkuti. Inilah isi resume yang beredar itu:

Analisa Situasi:

1. Isu korupsi adalah memang isu kelas menengah

2. Tidak menyentuh ke rakyat langsung

3. Namun berdasarkan pengalaman dalam demokrasi liberal, isu ini efektif untuk menjatuhkan kekuasaan SBY (ex: Gus Dur, Joseph Estrada, dll) melalui mekanisme parlementer

4. Di tingkat rakyat isu korupsi dapat menjadikan kekuasaan kehilangkan kepercayaan dan apatisme terhadap elite politik

5. Jika isu ini terus berkembang dan persoalan kemiskinan serta lapangan kerja akut akan menjadi potensi sentimen yang akut juga: akan menjadi kesamaan isu ekonomi, akan terdorong isu politik bisa mengulangi peristiwa Mei 1998.

Klarifikasi Target:

1. Memperbesar isu pemerintah bersih dan efektif hingga SBY terdelegitimasi

2. Reposisi jabatan dan tawar menawar mengganti posisi

3. Menggulingkan SBY sebelum 100 hari dengan parlementer

4. Menggulingkan SBY dengan amuk massa

Pola Gerakan

Mendorong Gerakan Atas :

1. Akan tetap dimotori kelompok yang berkumpul di Imparsial dan Kontras ditugaskan kepada Syafii Maarif dan Din Syamsudin yang masih bisa berbicara dengan Todung Mulya Lubis, Komarudin Hidayat, Goenawan Mohamad/Bambang Harry Murti.

Platform: Clean Goverment

Sasaran Prioritas: pemberantasan korupsi dengan membersihkan institusi penegak hukum. Kelompok ini cenderung bargaining karena mereka mendukung liberalisasi, dan berhenti setelah TPF terbentuk (tetapi ketika SBY berpidato tentang pengungkapan bank Century dianggap akan mengorbankan Wapres Boediono, kemudian mereka langsung menyerang SBY yang bakal jatuh sebelum 100 hari.

2. Akan tetap dimotori Kompak, (ditugaskan kpd Fadjroel Rahman, Ray Rangkuti dan Yudi Latif) posisi politik sama dengan yang diatas seakan-akan mendorong semua institusi negara mematuhi rekomendasi TPF lalu didorong untuk menggulingkan SBY.

3. Forum Rektor, garisnya hampir sama menolak kriminalisasi KPK dan masuk ke isu Bank Century (Syafii Maarif)

4. Forum 28 (ditugaskan kepada Yudi Latif dan Fadjroel Rahman)

5. DPR, hak angket bank Century, tugas bersama JK dan Prabowo dengan melobi Aburizal Bakrie dan Megawati Soekarnoputri.

6. Media, ini cukup memberikan energi bagi pergerakan yang ada di bawah dimotori Metro TV dan TV One.

Dan media cetaknya adalah KOMPAS dan Media Indonesia. ditugaskan kepada Surya Paloh dan Suryopratomo

7. Facebooker, kelas menengah yang pro kemapanan sistemik, hitam putih melihat perkembangan politik mendorong agar tak berhenti di gerakan pembebasan Bibit & Chandra. (ditugaskan kepada tim IT kampanye Mega-Pro)

Segera mendekati simpul-simpul atau tokoh-tokoh massa gerakan bawah:

1. Gerakan spontan setelah Bibit & Chandra ditahan

2. Gerakan, mahasiswa aktif, akademisi, beberapa tokoh masyarakat

3. Bergerak di luar kampus

4. Bergerak sedikit meluas ke kota-kota

5. Walau belum melibatkan massa yang luas (para simpul atau tokoh ini bisa didekati dengan pendekatan yang persuasif dan materi untuk didorong ke gerakan penggulingan ditugaskan kepada Yudi Latif).

———————————————————————————————

Bibit – Chandra usai sudah menjadi gunjingan politis. Imbasnya dimana para petinggi negara menjadi tertuding dan merasa gerah. Kini berikutnya adalah kasus aliran dana Century yang disebutkan adalah 6,7 trilyun. Siapa yang menikmati dan siapa yang membuat kebijakan-kebijakan tersebut sehingga ini menjadi bencana Nasional. Boediono baru menikmati beberapa bulan saja sebagai Wakil Presiden, palu menghantam. Kapal yang disebut Indonesia terombang-ambing. Angin dan badai terus dihembuskan dan riak menjadi gelombang besar. Apakah laut itu juga akan terbelah.

MERDEKA….!!!

Rasanya teriakan ini hanya euforia semata. Barangkali masanya berbeda ketika jaman perjuan dulu dengan sekarang. Heroisme yang terjadi memekikkan kata “MERDEKA..” bisa membuat semua orang bergidik. Lalu masa kini… apa itu? Kadang menjadi sesuatu yang lucu atau terkesan aneh ketika teriakan itu diteriakan.

Merdeka.??

KEDIPMerdeka itu lepas dari penindasan.

Merdeka itu terbebas dari tekanan-tekanan yang menghimpit.

Merdeka itu bagai burung yang terbang bebas, hinggap dimanapun mau.

Merdeka itu mencapai alam khayal yang juga tidak tahu maknanya.

Merdeka itu tidak ada rasa takut kemanapun pergi.

Merdeka itu tidak ada terorisme di negeri ini.

Merdeka itu  tidak punya hutang dan segala beban kreditan.

Merdeka itu tidak punya janji.

Merdeka itu tidak punya beban kerja yang berlebihan yang tidak bisa kita kerjakan.

Merdeka itu bebas mengemukan pendapat.

Merdeka itu bebas tersebyum dan tertawa bahagia.

Merdeka itu hanya mimpi-mimpi indah………..

DIRGAHAYU INDONESIA..!!!

SIAPKAH ANDA MENERIMA KEKALAHAN?

warisanMenjadi orang yang kalah dalam sebuah kompetisi ataupun lomba apapun akan menjadi pahit dan getir. Kita seringkali tidak sanggup menjadi orang yang kalah. Rasa malu menjadi beban yang sangat berat. Terkadang segala dalih menjadi alasan untuk memperjuangkan agar kita tidak menjadi yang kalah.

Lihatlah, Pilpres sudah bergulir. Dan hasilnyapun kita juga sudah bisa memperkirakan. Imbas dari perlombaan inilah yang masih menjadi tanda tanya besar. Mahkamah Konstitusi masih menjadi kunci semua keputusan itu. Para pendukung kandidat , khususnya no.1 dan 3 (yang kalah) tidak habis-habisnya mencari segala upaya untuk menggagalkan keputusan hasil Pilpres ini.  KPU, DPT  dan segala yang dianggap curang dalam proses pencontrengan. Dalih-dalih dianggap Pilpres ataupun Pileg tidak memenuhi syarat untuk ditetapkan. Padahal kita semua tahu, berapa biaya yang diperlukan untuk proses demokrasi ini. Pasti tidak kecil.

Menjadi legowo memang tidak mudah. Banyak hal yang melatarbelakangi menjadi sakit.

Memang benar, pelaksanaan Pilpres dan Pileg tidak bisa memenuhi harapan menjadi sesuatu yang sempurna. Memang benar, kita harus terus belajar dalam membangun demokrasi di tanah air ini. Tapi, apa bukannya kita masih bisa berhemat dalam pengeluaran biaya dan energi.  Marilah kita bangun sikap berbesar hati untuk menerima kekalahan. Insya Allah, melalui sebuah proses belajar dari kesalahan dan kekurangan, kita bangun Pileg dan Pilpres berikutnya lebih baik.

Kita selesaikan saja sekarang. “Lebih Cepat, Lebih Baik” sesuai moto yang dikembangkan JK-WIN.  STOP membangun opini yang akan memecahbelah bangsa dan menjurus kepada perpecahan. Para kandidat duduk bersama, bersalaman, berpelukan, dan saling memberi dukungan moril kepada yang menang untuk melanjutkan perjuangan bangsa.

HIDUP DEMOKRASI…….

BERSIAPLAH MENERIMA KOMERSIALISASI PENDIDIKAN

Iklan di media televisi kita “kalau ayahnya tukang antar koran, anaknya bisa jadi wartawan“. Iklan tersebut penggambarkan bagaimana usaha pemerintah menempatkan pendidikan sebagai program unggulan.

Tetapi apakah ini memang sesuai kenyataan ?

Pertama. Mari kita lihat sekeliling kita. Bagaimana  saat ini seluruh Orangtua gelisah menantikan masuknya tahun ajaran baru. Selain kegelisahan akan sistem penerimaan siswa baru (PSB), pastilah yang berikutnya adalah persoalan biaya. Mungkin untuk SD dan SMP masih ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk menggantikan DSP dan SPP. Artinya sekolah masih bisa di gratiskan. Tetapi di tingkat SMA tidak. Di SMA masih dipersilakan kepada sekolah untuk mencari sumbangan (DSP) dari orangtua siswa. Besarnya biasanya ditetapkan oleh sekolah bersama para orangtua siswa melalui jalan musyawarah. Yang berikutnya adalah bagaimana melengkapi seluruh kebutuhan putra-putrinya. Mulai dari seragam sekolah, tas, buku, dll…. Biasanya para vendor berlomba-lomba menawarkan semua itu dengan janji-janji yang manis.

Jadi siapa bilang sekolah itu GRATIS…!!??

Kedua. Sekarang menjadi sebuah symbol untuk mengangkat predikat sekolah. Sekolah-sekolah berstatus negeri berlomba-lomba untuk menempelkan label-label tambahan di belakang nama sekolah tersebut. Label itu diantaranya : SSN (Sekolah Standar Nasional), RSBI /SBI (Rencana Sekolah Bertaraf Internasional), SKM (Sekolah Kategori Mandiri), dll. Ini  sangat memusingkan masyarakat/orangtua. Untuk apa? Idealnya memang untuk mengangkat harkat pendidikan yang dikelola sekolah. Kenyataannya sama-sama saja. Produk siswa juga tidak terangkat karena label-label itu. Yang lebih menyedihkan lagi, sekolah-sekolah yang telah berlabel, diperbolehkan untuk memilih siswanya sendiri melalui program tes khusus (???). Lalu setelah dinyatakan diterima, siswa dikenakan biaya yang khusus. Kabarnya di salah satu sekolah di Bandung (SMA) menetapkan tarif sebesar 8 juta rupiah. Wow…? Jumlah yang tidak sedikit. Ini hampir menyerupai cara2 Perguruan Tinggi Negeri menerima mahasiswa melalui jalur tes khusus, di depan sebelum mahasiswa reguler. Setelah dinyatakan diterima, tanyakan saja berapa biaya yang harus dikeluarkan. Padahal… semuanya sama-sama sekolah negeri. Sekolah yang di biayai keringat rakyat Indonesia melalui pajak.

Saya secara pribadi agak pesimis apakah memang betul biaya-biaya yang tinggi itu akan mengangkat derajat pendidikan kita.  Kelulusan siswa saja masih harus melalui konversi angka…

Jadi… BERSIAPLAH UNTUK MENERIMA KENYATAAN, KOMERSIALISME DALAM PENDIDIKAN KITA….

Pemerintah itu milik Rakyat atau Partai?

Pemilihan Anggota Legislatif sudah usai dengan menyisakan berbagai persoalan. Mulai daftar pemilih, kecurangan-kecurangan, penetapan yang berlarut-larut, sistem penghitungan elektronik yang kacau, hingga para caleg yang tidak terpilih menjadi stress atau gangguan kejiwaan.  Mungkin boleh dikata bahwa dalam sejarah politik Indonesia adalah yang paling buruk.  Tentunya ini harus menjadi PR bangsa ini untuk dapat memperbaiki segala kelemahan-kelemahan itu.

Kini saatnya Indonesia memasuki babak baru, yakni Pemilihan Presiden dan Wakilnya. Sebelum munculnya calon-calon diwarnai dengan peperangan antar partai. Partai-partai sibuk mencari-cari siapa yang paling dapat mengamankan partainya. Mulailah lobi-lobi  yang menurut orang awam seperti saya seperti ‘dagelan’. Awal menyebut ‘A‘. Tapi besok hari menyebut ‘B‘. Dan kemudian lahirlah ‘C“. Adu kekuatan dengan mengatasnamakan ‘KOALISI’ menjadi pertunjukan yang samasekali tidak membawa apa-apa. Itu hanya ‘Power Force“.  Menekan dan mengecoh lawan agar gentar. Bagi yang ditekan, lalu bersabar, rasanya lebih mendapat hati di masyarakat. Lalu berikutnya dagelan apalagi?

Jual pesona pastinya. Siapa yang paling cantik dan paling sexy, itulah pilihanku. Cuma sayangnya memang tidak ada. Yang ada adalah yang pertama bersabar, intelektual, santun, agamis , kedua adalah yang kaya, yang tanpa motivasi, yang apa adanya, dan yang ketiga adalah yang napak tilas sejarah, kaya, dan emosional. Indonesia dipersilakan untuk memilih siapa yang akan memimpin negri ini. 

Kini saatnya para calon pemimpin ini berlomba-lomba menarik simpati 100 juta lebih rakyat Indonesia. Hanya sebuah harapan, agar para calon-calon ini tunjukkanlah kepada bangsa ini sikap yang lebih dewasa. Tetap menjaga nilai-nilai sportifitas yang tinggi, tentunya disertai dengan kedalaman penghayatan tentang “INDONESIA RAYA“. Tak perlulah satu dengan yang lain menyobek-nyobek perasaan dengan membuka luka-luka lama. Mengatasnamakan rakyat kecil dengan janji-janji yang menggiurkan justru terkesan kamuflase semata. Jangan lagi sakiti perasaan rakyat meskipun terkesan heroik.

Mari kita renungkan . “Partai tertentu dijanjikan memiliki jatah 10 kementrian strategis jika memenangkan Pilpres ini” (Harian Pikiran Rakyat, Minggu, 24 mei 09). Wow… fantastis sekali… Artinya pemerintah nanti adalah milik partai? Mungkin di tingkat elit politik ini adalah wajar-wajar saja. Pertanyaannya apakah betul dalam tubuh partai diisi oleh para manajer-manajer ulung ? Secara pribadi pernyataan ini membuat   

Marilah kita arungi samudra baru ini dengan tenang dan nyaman. Hindarkan karang-karang yang menghadang agar kapal INDONESIA ini tidak pecah dan karam.

Motivasi

main air

“Plan Your Work and work Your Plan”

“The most Important Thing about Motivation is Goal Setting. You should always have a Goal”

“When You bring a single light of Peace. It will brighten up Whenever You Go”

“Life Transforming Ideas have always Come to me through Books”

“Friends are Angels who Lift us to our Feet when our Wings have Trouble. Remembering how to Fly”

“The Future belongs to those who Believe in the Beauty of their Dreams”

“We cannot control the directions of the wind, but maybe we adjust our sails”

 

Pil Dextro yang membawa maut

Membaca salah satu artikel harian PR (10/5), ternganga dan setengah tak percaya. Puluhan pelajar SMP di kota Garut (Jawa Barat) yang berusia belia ramai-ramai menenggak pil Dextro (obat batuk) hingga puluhan butir sekaligus. Sebagai obat batuk biasa, sesuai dengan dosisnya, tentunya tidak akan memberikan reaksi begitu parah.  Dikabarkan 2 orang pelajar itu mencicipi rasanya mati sia-sia. Dan beberapa pelajar lainnya terkapar di rumah sakit. Bayangkan saja pil ditelan sekaligus sebanyak 20 hingga 40 butir. Mereka pikir ini bisa membuat FLY alias teler. Entah info darimana datangnya sehingga mereka nekat. Atau ada provokasi orang-orang dewasa di belakang itu.

Yang jadi pertanyaan adalah  sebegitu jauhkan siswa-siswa sekolah frustasi akan kehidupannya? Apa yang membuat mereka stress? Atau barangkali ini adalah akibat pengaruh luar yang begitu kuat terhadap anak-anak kita? Kemana peran pendidikan yang dilakukan sekolah dan keluarga ?

Antasari VS Rani

Siapa yang mengira bahwa Antasari, Sang Penjagal Koruptor, tersandung kasus yang sangat sulit dipercaya. Terlepas dari kronologis berbagai versi, secara pribadi saya rasanya tidak bisa percaya. Banyak judul bertebaran di media koran, TV, dan para bogger yang menempatkan kasus ini menjadi barang yang laris manis. Yang membuat saya geleng2 kepala, masyarakat kita koq terjebak dalam situasi yang belum tentu kebenarannya. Bahkan ditengah situasi politik yang semakin memanas ini, orang digiring ke perihal yang menurut saya kecil artinya daripada memikirkan nasib bangsanya. Jangan lupa, nasib keberlanjutan bangsa ini tak lepas dari siapa yang memimpin negara ini. Pilpres sudah di depan mata. Janganlah kita hanya mampu bereuforia dengan kesulitan orang lain.

Menyoal Pemilu 2009

Hari ke hari, semua orang terhenyak ketika pernak-pernik pemilu 2009 hadir dihadapan kita dengan banyak persoalan. Mungkin di atas langit Indonesia segera memerah. Orang-orang begitu mudah terpancing emosinya. Marah karena kalah dalam penghitungan suara. Berdalih dicurangi, dicundangi, dan semua kata yang penuh curiga. 

INDONESIA RAYA…. begitu manis terdengar… tetapi hanya klise. Para politisi dan yang merasa menjadi politisi beramai-ramai menjagi caleg (calon legislatif) yang kononnya hidup indah…. tapi tak seindah nasib rakyatnya.  Giliran Pemilu telah berlalu (9 April 009), langit Indonesia semakin panas membara. Rakyat bertanya dan tidak pernah ada jawaban yang memuaskan. Partai-partai kelimpungan karena perolehan suara sangat diluar impiannya. Dan rakyat hanya melongo… ternyata segala topeng itu hanya hiasan semata.

Para politisi menggunakan berbagai cara untuk menandingi saingannya. Partai yang kalah mulai menekan dengan doktrin-doktrin yang sebenarnya apakah banyolan atau memang busuk. Sementara yang lain dengan penuh senyum bersabar demi kemenangan publik. 

rasanya tak salah jika pemilu kali ini berhiaskan berbagai masalah.

PERTAMA.  KPU adalah lembaga yang memang patut menjadi akar semua kekisruhan pemilu. Mulai dari DPT yang kacau hingga cara penghitungan yang kononnya mutakhir tapi tak ayal mengundang masalah. Hingga hari ini (22 april), artinya sejak tahap pencontrengan sudah memasuki hari ke 13, penghitungan suara baru mencapai angka 13 – 15 % saja dari jumlah suara seluruh Indonesia. Ini saja sudah menjadi seolah-olah menjadi angka resmi. Ini diperkuat oleh penghitungan versi Quick Count. Padahal Pemilu 2004 lalu di hari ke 10, penghitungan di KPU sudah maksimal. Selidik punya selidik, akar masalahnya ada di KPU Daerah. Data belum dikirim karena kekisruhan disana yang tak kunjung selesai. Di beberapa daerah, partai2 tetap tak mau mengakui hasil pemilu. 

Lalu sekarang harus apa? Apakah suara rakyat dan seluruh dana negeri ini akan dikorbankan untuk melakukan pemilu ulang? Sepertinya mustahil. JANGAN KHIANATI SUARA RAKYAT meskipun hanya satu contrengan. Para Politisi segera harus bersabar, menjaga emosi-emosi yang dapat menghancurkan kepercayaan rakyat. Rakyat negeri ini sudah berkorban untuk melakukan apa yang bisa dilakukan (mencontreng). Jangan nodai dengan intrik-intrik licik hanya untuk kepentingan rakyat.

KEDUA. Partai-partai sebaiknya agar melakukan rekonsiliasi secara baik. Saling menghargai antar semua partai. Tidak perlulah untuk menciptakan iklim yang justru akan mendeskriditkan partai Anda. Jika memang Pemilu ini penuh dinodai dengan cacat (pasti), mari kita hargai upaya yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan bangsa. Saya berpikir tidak ada yang bisa kita paksakan, kecuali menerima apa adanya. Tapi tentu saja segala macam kejanggalan dan kesalahan yang terjadi menjadi bahan pertimbangan bagi PILPRES mendatang. Mari kita bangun kembali semua persaingan secara normatif.

KETIGA.  Bila para petinggi partai atau politisi tetap saja mempermasalahkan semua yang terjadi, saya berpikir apakah bisa terjadi CHAOS…. Ini pasti sangat berbahaya. Dan tentunya akan menghancurkan apa yang pernah dibangun selama ini. Bukan suatu kecurigaan, tetapi apakah mungkin semacam terjadi KUDETA MILITER . Jangan lupa bahwa kekuatan militer kita selama ini sering disudutkan dalam percaturan politik. Mungkinkah?

INDONESIA RAYA…… !!!!

Konflik Otak

warna

Cobalah menyebutkan warna-warna pada gambar secara cepat. Kesulitan?

 

Saat melihat warna maka otak kanan yang abstrak dengan segera mengambil peran. Saat itu kita tahu apa warna-warna apa yang ada. Namun saat akan mengucapkan nama warna, otak kiri yang sistematik ganti mengambil peran. Otak kiri ini cenderung membaca tulisan di atas warna. Hasilnya adalah kita kesulitan menyebutkan warna-warna tersebut. Kita tahu warnanya, namun salah mengucapkan namanya.

 

Ketika kita sadar, dan kemudian berusaha menekan informasi dari kata-kata, barulah kita dapat menyebutkan nama warna dengan benar. Itupun dengan agak susah payah. Sudah dicoba?