Sejarah Alam Bandung Purba

Bayangkan ketika kita duduk di pendopo Bandung yang indah saat ini, atau ketika tepekur dan berzikir di lantai marmer Masjid Raya Jawa Barat. Bila hal itu terjadi 20 ribu tahun yang lampau, berarti kita sedang duduk di dasar danau pada kedalaman 10 – 15 m.

Bayangkan kalau kita termenung memandang Sungai Citarum yang bersampah, hitam dan berbau di jembatan Dayeuh Kolot; 20 ribu tahun yang lampau kita sedang menyelam di dasar danau pada kedalaman 50 – 65 m dari permukaan air danau! Kalau kita berada di Kamar 7 Gua Pawon memandag lembah Cibukur 20 – 5 ribu tahun yag lali. Kita ditemani manusia – manias prasejarah yang berkerumun memandang binatang buruan di lembah Cibukur.

Kalau kita bermain – main di bebatuan Sungai Cikapundung di Maribaya 48 ribu tahun yang lalu kita bisa melihat lava yang mangalir dari kawah Gunung Tangkubanparahu.

Ketika orang – orang menggali batu kapur di Citatah 30 – 20 juta tahun yang lalu mereka sedang menggali terumbu karang yang indah di laut dangkal pada kedalaman 10 – 20 m dari permukaan laut purba di sebelah barat Bandung.

Alam telah jauh berubah sekarang!

Bandung sangat beruntung dengan sejarah alamnya yang luar biasa. Dari laut bertaman karang yang indah pada Zaman Tersier Kala Oligo-Miosin 30 – 20 juta tahun yang lalu, berubah menjadi daratan bergunung api pada Kala Pliosin 5 – 4 juta tahun yang lalu. Pada Zaman Kuarter 2 juta tahun yang lalu, seluruh Jawa Barat mulai ternagkat menjadi daratan, menjadi pegunungan dengan dihiasi gunung – gunung api aktif. Letusannya silih berganti: Gunug Sunda Purba meletus dahsyat berkali – kali. Gunung – gunung lain meletus susl menyusul: Gunung Tampomas, Ciremai, Syawal, Galunggung, Guntur, Papndayan, Cikurai, Patuha, Gede – Pangrango, dan Krakatau.

Letusan berulang – ulang terjadi pada 27 Agustus 1883, Kawah Danan Perbuwatan Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dahsyat. Suaranya menggelegar hingga terdengar ke Singapura bahkan Sydney. Abunya menembus lapisan langit dan mengendap tiga hari kemudian di New York. Selama bebearapa minggu abu letusan itu menutupi bumi menghalangi sinar matahari dan menyebabkan musim panas terdingin di belahan bumi utara.

Tahun 1982 Gunung Galunggung meluluhlantakkan sebagian Tasikmalaya. Abunya yang terlontar ke udara mendarat daruratkan pesawat Boeing penerbangan Sydney – London di Jakarta. Hujan abu jatuh di Bandung, membuat Bandung sesak dan pengap, dan baru berakhir ketika hujan pertama jatuh di bulan Oktober 1982. Tahun 2002 Gunung Papandayan menggegerkan Kecamatan Cisurupan, Garut. Letusan kecil yang membuat berita besar.

Pada Zaman Kuarter, sekitar 135 ribu tahun yang lalu, Danau Bandung terbentuk. Genangannya yang luas mengisi seluruh daratan tinggi Bandung dari Rancaekek hingga Saguling pada ketinggian antara 710 – 715 m di atas permukaan laut sekarang. 16 ribu tahun yang lalu, seiring dengan turunnya permukaan air laut, air danau menerobos perbukitan Saguling membelah dan membentuk lembah antara Pasir Larang dan Pasir Kiara, mengeringkan danau Bandung. Airnya kemudian mengalir pada lembah Sungai Citarum menerobos Gua Sangiangtikoro, dan terus mengalir ke utara. Jadi, tempat mengeringnya danau BAndung berada jauh kea rah hulu pada punggungan bukit Pasir Larang-Pasir Kiara, tidak di Sangiangtikoro.

Pada masa – masa mengeringnya danau Bandung antara 16 – 3 ribu tahun yang lalu, daratan Bandung menjadi ranca (rawa) yang becek yang menjadi tempat berjejalnya badak-badak dan hewan-hewan lainnya. Inilah padang perburuan yang menggiurkan dimasa purbakala. Dengan bersenjatakan tombak bermata batu obsidian yang keras dan tajam, manusia-manusia prasejarah leluhur orang Jawa Barat beranjak dari kampong-kampung purba di lereng-lereng perbukitan sekeliling Bandung menyerbu hewan buruan di daratan dan ranca di bawahnya.

Batu obsidian yang ditambang di Kendan, Nagreg: dan mungkin pula dari Gunung Kiamis, Garut, dibawa leluhur kita menyusuri jalan-jalan setapak antara Gaurt, Lels, Parakanmuncang, Cileunyi, Cinunuk, Cilebgkrang, dan Cikadut hingga dibuat berbagai alat dan senjata di bengkelnya di kawasan Situ Cangkuang di Leles, Garut, dan di bukit Dago Pakar, Bandung utara.

Sementara itu, koloni yang lain menjelajah perbukitan kapur di Citatah danmenemukan tempat yang nyaman untuk tingal: sebuah gua yang sekarang dinamakan Gua Pawon, serta ceruk-ceruk batu kapur yang banyak terdapat pada perbukitan kapur di bekas laut dangkal ini. Budaya karuhun kita ternyata luar biasa. Mereka telah mengenal api, membuat peralatan dari batu dan tulag, membuat perhiasan dari gigi ikan hiu, mebuat kendi-kendi dari tanah. Mereka mungkin menjelajah Garut dan Sukabumi Selatan, dan membawa pulang batu-batuan yang tidak ditemukan di sekitar Bandung. Mereka membawa oleh-oleh berupa gigi-gigi ikan hiu yang dirangkai menjadi kalung, dan kemudian menjadi hiasan kubur bagi oarng yang mereka hormati. Orang yang mereka kubur dalam penghormatan tinggi, tahun 2003 kerangkanya tergali meringkuk tenang di Gua Kopi (di Gua Pawon).

Begitulah sejarah alam Bandung yang luar biasa kaya, variatif dan menarik. Kini, alam Bandung telah jauh berubah. Evolusi yang berjalan lambat berjuta-juta tahun, berubah begtu cepat ketika manusia ikut campur tangan mengubah alam. Itulah peristiwa alam yang teratur datang berulang-ulang. Kejadian masa kini, terjadi pula pada masa lalu, dan akan terus terjadi pada masa yang akan datang.

Dari alam yang telah berubah, jelajah bentang alam masa kini akan membuka kunci masa lalu Bandung purba

Sumber: Geowisata, Sejarah Bumi Bandung, Budi Brahmantyo

Metode Pembelajaran Seni Musik

Reblogged from Mr. Fahrur's Blog:

PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN SENI MUSIK

Metode-metode pembelajaran musik

Menurut Mason yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi, pendidikan musik di sekolah bukan untuk menciptakan musisi-musisi profesional namun untuk mengembangkan musikalitas siswa yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan usia siswa. Pendidikan musik di tingkat dasar sebaiknya melibatkan pengalaman-pengalaman konkret yang dilakukan siswa secara mandiri sebelum menghadirkan teori-teori (prinsip praktek sebelum teori).

Read more… 716 more words

Betul sekali, anak-anak harus diberikan ruang apresiasi dan ruang kreativitas untuk terus memperkembangkan ruang abstraknya.

Jual Tanah Di Pegunungan Bandung Timur

Jual sebidang tanah di daerah Bandung Timur, akses jalan masuk dari Pasar Ujung Berung (Cigending) atau Cijambe, kurang 5 km ke Utara. Lokasi tanah langsung berhadapan dengan pemandangan ke arah kota Bandung dan berada di area wisata Paratag – Ujung Berung.

HARGA PENAWARAN : Rp. 55.000.000,00

Peminat bisa menghubungi :

022-72514848

Gambar Tanah Dijual

Keterangan :

  • Luas Tanah : 30 tumbak.
  • Memiliki sumber air / mata air yang tak pernah berhenti sepanjang tahun.
  • Tanah berbentuk tanah miring.
  • Berbatasan dengan aliran sungai kecil dari pegunungan, dan telah di beton sepanjang area tanah.
  • Area sekitar masih dikelilingi oleh sawah produktif.
  • Sudah dibangun fondasi bangunan seluas 9 X 7 meter.

15 Lagu Wajib Nasional – Uji Coba

CD Cover

3 tahun sudah saya habiskan waktu untuk menggarap sebuah musik konsep, yakni 15 Lagu Wajib Nasional, yang diarransemen memang untuk sebagai alat bantu meningkatkan nilai2 Patriotisme dan Nasionalisme Bangsa. Ke 15 Lagu karya adiluhung putra Bangsa Indonesia ini, ruh nya harus sampai di segenap pelajar Indonesia. Tapi memang ini baru tahap uji coba. Paling tidak di lingkungan kota saya, Bandung. Insya Allah bila tercapai, akan dikomunikasikan untuk pelajar Indonesia.
http://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F21035734 MARS KEMERDEKAAN by djawilproject

Intrapreneurship

A.B. Susanto

http://www.jakartaconsulting.com/art-13-14.htm

Apakah yang disebut oleh intrapreneurship? Arti gampangnya adalah entrepreneurship yang dipraktekkan di dalam sebuah organisasi yang mapan. Entrepreneurship memang identik dengan era perintisan usaha. Ketika perusahaan sudah membesar, organisasi menjadi sangat stabil, jiwa entrepreneurship sering tergerus oleh rasa aman dan kemapanan ini. Padahal agar organisasi bisa tetap kompetitif, entrepreneurship bukan saja wajib dimiliki oleh para pengusaha yang bekerja mandiri, tetapi juga oleh jajaran eksekutif dan karyawan perusahaan.

Entrepreneurship dapat dikatakan sebagai suatu proses untuk menciptakan nilai melalui pemanfaatan sejumlah sumber daya untuk ‘mengeksploitasi’ sebuah kesempatan. Dapat pula dikatakan entrepreneurship adalah bagaimana memanfaatkan kesempatan, tanpa terlalu ‘hitung-hitung’ seberapa banyak sumber daya yang dimiliki. Modal tekad dan semangat merupakan yang utama ketimbang modal lainnya.  Pendek kata entrepreneurship adalah opportunity driven.

Kesempatan tercipta oleh  perubahan lingkungan,  dan salah satu ciri seorang entrepreneur adalah kemampuannya yang lebih tajam dalam melihat perubahan-perubahan, dan menemukan kesempatan-kesempatan yang tersimpan di balik perubahan itu.

Seorang manajer yang rendah tingkat  intrapreneurship-nya mengatakan seberapa banyak sumber daya yang dapat saya kelola, dan dari sumber daya yang dipegang ini apa yang akan dapat dicapai ? Namun seorang manajer yang tinggi tingkat  intrapreneurship-nya akan mengatakan berdasarkan apa yang ingin dicapai, baru mengatakan apa saja yang harus dimiliki untuk mencapainya.

Terdapat tiga pilar dalam intrepreneurship yaitu inovasi, pengambilan resiko yang terkalkulasi, dan kreativitas. Inovasi adalah kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan cara yang baru. Pengambilan resiko yang terkalkulasi merupakan kemampuan untuk mengambil kesempatan yang sudah diperhitungkan dan menganggap kegagalan sebagai suatu pengalaman belajar. Kreativitas merupakan kemampuan untuk memperkirakan berbagai kemungkinan di masa depan dan secara proaktif menciptakan apa yang diidamkan.

Masalahnya adalah bagaimana memelihara semangat entrepreneurship dalam organisasi yang membesar dan semakin mapan. Organisasi yang besar dan stabil acapkali menimbulkan rasa percaya diri yang berlebihan pada orang-orang yang terlibat di dalamnya sehingga mengurangi sensitivitas terhadap kebutuhan pelangganya  dan kurang responsif terhadap dinamika persaingan. Padahal dalam situasi yang hypercompetitive, timbulnya sensitivitas terhadap kebutuhan pelanggan dapat berakibat fatal.

Menarik untuk mengamati General Motors yang berusaha menanggulangi penyakit ini. General Motors mencoba menciptakan “pasar” di dalam tubuhnya. GM mereorganisasi pabrik komponen yang kaku dan tidak efisien dengan melakukan pemecahan menjadi delapan unit internal market. Masing-masing unit dipandang sebagai profit center dan diharapkan mengembangkan keahlian yang terkait dengan system industri otomotif. Unit ini juga diharapkan mampu menjual produknya dalam pasar terbuka di luar kebutuhan GM. Misalnya, AC-Rochester tidak hanya menjual produknya kepada GM, tetapi juga menjualnya kepada Mitsubishi, Daewoo, dan Opel.

Unit-unit usaha ini diberi kebebasan untuk melakukan pembelian produk atau jasa dari pihak luar, dengan kompensasi dapat memberikan produk yang benar-benar mempunyai daya saing baik ke dalam maupun keluar. Untuk alasan kepentingan perusahaan yang lebih besar, terdapat kemungkinan perusahaan membatasi pembelian atau penjualan unit profit-center-nya ke dalam pasar internal, dengan kompensasi penurunan pemasukan atau laba dari yang seharusnya disumbangkan oleh unit tersebut.

Internal market network bukanlah pasar bebas, tetapi sebuah aliansi yang terdiri atas para intrapreneur. Kunci efektivitasnya terletak di dalam kolaborasi budaya yang dapat memberikan nuansa kebebasan berkembang kepada individu, teknologi, dan keterampilan melalui unit-unit profit center dan kemudian diorganisasi secara cepat ke arah sumber masalah dan penyelesaiannya. Dengan demikian, di dalam perusahaan diciptakan atmosfer dinamika pasar untuk merangsang daya saing. Tiap unit bertindak sebagai customer bagi unit yang lain seperti layaknya customer eksternal dan sebaliknya tiap unit menjadi pemasar seperti layaknya pemasok eksternal.

Dinamika pasar mendorong perusahaan untuk bersifat fleksibel dan responsif terhadap permintaan pasar. Kelambanan dan kekakuan birokrasi dalam bisnis membutuhkan perampingan struktur organisasi dan prosedur. Keberhasilan seringkali teraih dari kemampuan untuk melakukan hal yang berbeda, lebih cepat, dan lebih baik dari kompetitor. Semangat intrapreneurship merupakan hal yang esensial bagi pemasar.

Intrapreneurship dalam organisasi dibandingkan entrepreneurship memiliki sejumlah kelebihan maupun hambatan. Kelebihannya dibandingkan entrepreneursip terutama pada ketersedian sumber daya.  Semangat intrapreneurship dalam sebuah perusahaan yang sudah mapan mempunyai  sumber dayanya sudah tersedia dan ‘gratis’, tinggal bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada. Sementara hambatannya adalah spesialisasi dan pemisahan seringkali menghambat komunikasi, dan kompetisi internal seringkali pula menciptakan problem tersendiri.

Kenapa intrapreneurship sulit tumbuh dalam suatu organisasi? Pertama, biaya terhadap suatu kegagalan bagi yang bersangkutan terlalu tinggi, sementara penghargaan terhadap kesuksesan terlalu rendah. Intrapreneurship  harus mempunyai ruang terhadap terjadinya kegagalan sementara kegagalan di dalam sebuah organisasi sering diharamkan dan dapat merusak karir seseorang. Daripada mengambil resiko yang dapat menghancurkan karirnya, anggota organisasi cenderung cari selamat. Padahal penghargaan yang akan diperolehnya jika mengalami kegagalan tidak seberapa.  Kedua, terjadinya inersia yang disebabkan oleh kemapanan sebuah sistem, yang menyebabkan tidak seorang pun tergugah untuk melakukan perubahan. Ketiga, hirarki organisasi yang menyebabkan hambatan yang berlapis-lapis untuk menciptakan dan bertindak dengan cara yang baru.

Semangat entrepreneurship yang diperlukan oleh perusahaan besar tercermin ketika AT&T merintis pasar Rusia. AT&T menghadapi masalah ketika ingin melaksanakan program pemasaran melalui direct mail. Buku petunjuk telepon tidak tersedia, daftar nama tidak ada, dan kantor pos tidak menyediakan jasa ini. Hal ini tentu sangat sulit bagi AT&T yang terbiasa dengan informasi yang lengkap di AS. Dengan berbagai cara, AT&T menyewa YAR Communication untuk mendapat data tersebut dan tentunya dengan biaya yang lumayan besar.

Empat ribu buah surat siap untuk dikirim. Tetapi, Kantor Pos Rusia mencurigainya dan menahannya untuk keperluan investigasi. YAR Communication mengklarifikasi masalahnya dan akhirnya surat tersebut dapat terkirim. Respons yang sangat bagus, dan kemudian sebagian eksekutif Rusia memesan melalui telepon tanpa melihat produknya.

Kegigihan dalam keadaan yang serba terbatas dalam perintisan pasar merupakan ujian semangat intrapreneurship. Semangat ini seringkali luntur dalam perusahaan yang meraksasa dan stabil, yang dapat menimbulkan rasa aman yang berlebihan. Jadi, tugas pengelola adalah menciptakan struktur yang tidak birokratis, sistem dan budaya perusahaan yang memungkinan  tumbuhnya tiga pilar utama intrapreneurship : inovasi, pengambilan resiko yang terkalkulasi, dan kreatifitas.

Bagaimana bagi Anda yang telah mempunyai semangat ini atau yang ingin mengasahnya ? Carilah perusahaan yang mempunyai iklim yang kondusif bagi berkembangnya  intrapreneurship Anda.

Sumber : The Jakarta Consulting Group

http://www.jakartaconsulting.com/art-13-14.htm

INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH SELAMA 350 TAHUN OLEH BELANDA

Braga Tempo Dulu

Sejarahwan Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, mengatakan tidaklah benar bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Karena jika angka tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran, maka awal mula penjajahan di Indonesia adalah tahun 1592. “Padahal, bangsa Belanda pada tahun 1592 itu belum tiba di Indonesia. Belanda sendiri tiba di Indonesia, yakni di Banten, pada tahun 1552 di bawah pimpinan Cornelius De Houtman untuk menjajaki potensi perdagangan di Indonesia,” katanya di Medan. Indonesia tidak dijajah 350 tahun Oleh karena itu, kata dia, yang benar adalah bahwa Belanda memerlukan waktu selama lebih kurang 300 tahun untuk menaklukkan Indonesia. Hal ini ditandai oleh maraknya penentangan pemerintahan di sejumlah daerah untuk menolak intervensi Belanda seperti Raja Tallo, Iskandar Muda, dan Sultan Agung yang semuanya muncul dari beberapa wilayah di Indonesia.

Ia mengatakan, masa penjajahan di Indonesia tidak bisa digeneralisasikan untuk semua kawasan di Indonesia karena setiap daerah memiliki masa waktu berbeda untuk dijajah oleh bangsa asing. Oleh karena itu, dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, mutlak dilakukan reformasi pembelajaran sejarah. Sementara itu, staf peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas negeri Medan (Unimed), Erond Damanik, merujuk pada pendapat GJ Resink Tahun 1987 dalam bukunya Raja dan Kerajaan Yang Merdeka Di Indonesia Tahun 1850-1910. Disebutkan bahwa dalam kurun waktu tahun 1850 hingga 1910, masih banyak daerah di Indonesia yang masih merdeka atau belum diduduki oleh Kolonial Belanda.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masa Indonesia dijajah Belanda tidak benar selama 350 tahun, karena hingga tahun 1907 masih banyak wilayah yang bebas dari pengaruh Belanda. Misalnya, di Sumatera Utara ada perang Sisingamangaraja (1887-1907), Kiras Bangun (1901-1905), Rondahaim (1870-1889), maupun Datuk Sunggal masih mengobarkan perang terhadap Belanda termasuk wilayah Aceh. “Justru yang benar adalah sebaliknya, yakni Belanda membutuhkan waktu sekitar 300 tahun untuk menaklukkan seluruh wilayah di Indonesia. Jadi, mari sama-sama kita luruskan perjalanan bangsa ini. Kita tidak pernah dijajah selama 350 tahun, tapi justru yang terjadi adalah Belanda memerlukan waktu selama 300 tahun untuk menaklukkan kita,” katanya.

sumber : http://beritaaneh.com/2010/08/terungkapbelanda-tidak-pernah-menjajah-indonesia-selama-350-tahun/

Tawuran Pelajar, Siapa yang peduli.

Menonton pertunjukan jalanan ini memang bergidik ngeri. Para pelajar, khususnya berseragam abu itu, entah setan apa yang merasuk dalam pikiran mereka sehingga mereka kesetanan, membabi buta bertarung dengan lawan-lawannya di jalan raya. Jakarta, di jl. Daan Mogot, area pertarungan itu membuat lingkungan di sekitarnya merasa sangat terganggu. Mereka (pelajar) sama sekali tak ada rasa peduli dan rasa kasihan, atau mengerti tentang kepentingan umum. Miris rasanya, melihat pelajar ini merayakan selesai Ujian Nasional dengan bertawuran ria… batu-batupun berseliweran. Siapapun di dekatnya yang kebetulan berada disana, sial pun akan dialaminya.  Kaca mobilpun pecah, mobil box disemprot cat pilox, dll.

Sepeda motor yang dimanati oleh orang tua mereka, dipacu sekencang-kencangnya sambil mengacungkan celurit, golok, samurai, tongkat, dan benda-benda penghancur. Mungkin mereka terinspirasi film the Patriot. Perang sadis antara Amerika Utara dan Selatan.

“Saya sendiri tidak tahu masalahnya apa, tapi beberapa hari sebelumnya ada teman kami yang dikeroyok. Mereka (SMU Gama) menggunakan gir bekas motor, dan saya bawa celurit hanya untuk jaga diri saja. Saat terjadi tawuran kemarin, saya pake,” ucap pelajar SMA Bokri II Yogyakarta, Febrian (18) yang baru menyelesaikan Ujian Nasional pada 18-20 April kemarin di Mako Polsekta Gondokusuman Yogyakarta, Jum’at (22/4/2011).

Komentar pun bermunculan menanggapi dari persoalan ini. Ada yang menuding sekolah tak becus mengurus siswanya, termasuk gurunya, termasuk Depdiknas. Ada yang menuding masyarakat lah yang memberi peluang. Ada yang mengungkit-ngungkit politis dan contoh buruknya. Menyalahkan sikap represif polisi. Orang tua dan keluarga. Dan seterusnya…

Lalu sebenarnya siapa biang kerok semua ini? Dan bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk mengendalikan para remaja-remaja ini? Saya ingin mengajak diskusi Anda….

Pemikiran praktis saya, bagaimanapun pendidikan seseorang bermula dari keluarga. Keluarga lah yang paling memegang peranan penting terhadap pembentukan karakter anak. Orangtua menitipkan ke sekolah bukan berarti segala urusan pendidikan selesai. Terkadang saya melihat bagaimana para orangtua kurang memberikan perhatiannya terhadap perkembangan anak di luar sekolah. Lembaga yang disebut sekolah ini hanya sebagian kecil saja dari pembentukan karakter dan kepribadian.

Sebuah pengalaman pribadi sebagai guru, anak-anak harus disibukkan dengan berbagai aktivitas yang bersifat kreatif. Membangunkan segala potensi yang dimilikinya sehingga lebih berharga. Dengan berkesenian, berolahraga, atau pengembangan karya-karya lainnya adalah langkah yang kiranya akan berdampak positif pada pemanfaatan waktu. Anak akan lebih merasa dirinya sangat berharga. Berikan harapan-harapan yang ada di depan sana. Saya sepertinya berkeyakinan anak-anak tak akan membuang waktu percuma dengan perilaku yang menyimpang.

Komentar Anda????

Mengajar Berbasis Otak Kanan dan Otak Kiri

Mengajar haruslah melibatkan otak kiri dan kanan siswanya. Jika tidak melibatkan kedua fungsi otak itu, ketidakseimbangan akan terjadi bagi diri siswa. Potensi salah satu otak itu akan lemah dan semakin lemah. Untuk itu, semua guru ketika mengajar haruslah menggunakan strategi pelibatan otak kiri dan kanan siswanya.

Otak manusia dibagi menjadi dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri dengan fungsi yang berbeda. Otak kanan diidentikkan tentang kreativitas, persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Sedangkan otak kiri biasa diidentikkan dengan rapi, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear, dan tahap demi tahap.

Seorang peneliti bernama Roger Sperry (1960) menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri,akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa, dan matematika.

Berdasarkan kekuatan fungsi masing-masing, berarti, kedua fungsi otak manusia itu sangat diperlukan dalam menghadapi hidup. Begitu pula, bagi siswa, pembiasaan penggunaan kedua fungsi otak itu sangat bermanfaat dalam perjalanan dirinya menuju kedewasaan. Dengan begitu, guru dalam mengajar di kelas, metode apapun yang digunakan, sebaiknya berbasis otak kanan dan kiri.

Berikut ilustrasi guru yang mengajar selalu berbasis otak kiri saja. Ilustrasi berikut diambil dari blog Heriyono. Seorang guru yang mengajar berhitung untuk kelas 3 SD, Masuk kelas dengan malas. ”Anak-anak, sekarang kita belajar berhitung,” kata guru. ”Jumlahkan bilangan : 1+2+3+4+5+6+7+…. dan seterusnya sampai terakhir tambah 2000 !” perintah guru. Guru tersebut berfikir bahwa anak-anak tidak akan mampu menyelesaikan tugas tersebut, yaitu menjumlahkan bilangan dari 1 sampai 2000 dalam waktu 2 jam – bahkan jika pakai kalkulator sekalipun. Sehingga guru tersebut dapat duduk-duduk santai saja.

Tetapi tidak. Hanya dalam waktu sekitar 1 menit, seorang murid mengacungkan tangan dan berkata ”Saya bisa, saya sudah selesai”. Guru tersebut kaget, ”Mana mungkin,” pikirnya. Tetapi murid tersebut memang bisa, dan benar. Ia mengatakan jawaban dari soal itu adalah 2.001.000. Bagaimana caranya?

Murid itu mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dan cepat karena menggunakan otak kanan dan otak kiri secara harmonis. Otak kiri berpikir dengan cara urut, bagian perbagian, dan logis. Sementara otak kanan melengkapinya dengan cara berpikir acak, holistik, dan kreatif.

Jika kondisi di atas dijaga dan dibimbing oleh guru yang paham dengan fungsi otak kiri dan kanan, anak tersebut pasti akan lebih diperkuat dan dimotivasi untuk terus melakukan kreativitas lagi. Bahkan, anak-anak lain diajak untuk semakin berpikir kreatif. Sebaliknya, jika siswa itu dihadapi oleh guru yang juga hanya berpikir otak kiri, siswa itu pastilah akan mendapatkan cercaan, makian, bahkan mungkin pukulan.

Saat kita belajar di sekolah misalnya, kita biasa dituntut untuk berpikir urut dan logis saja. Tetapi, seperti telah kita lihat dalam contoh anak kelas 3 SD di atas, kita perlu menggunakan setengah kemampuan yang lainnya yaitu otak kanan. Kita memang perlu keberanian untuk mencoba menggunakan otak kanan yang berpikir secara acak, menyeluruh dan kreatif itu. Sebagimana seekor burung dapat terbang bebas menggunakan dua sayapnya, sayap kiri dan kanan. Demikian juga kita, manusia dapat menerbangkan kecerdasan otak, kecerdasan berpikir setinggi langit dengan sayap-sayapnya, otak kiri dan otak kanan.

Norman.. polisi yang sangat beruntung berkat Youtube

Mungkin boleh dibilang ini sekedar euforia dari kegemparan yang terjadi di masyarakat kita.

O walah…. benar-benar polisi ini sangat menghibur di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang semakin jenuh. Keisengannya ternyata berbuah hasil. Keisengan yang boleh juga disebut kreativitas. Briptu Norman kini bak seorang artis terkenal. Selamat….

10 Filosofi Orang Jawa

  1. Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
  3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)
  4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
  6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
  7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).
  8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
  9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).

Sumber :  http://djonkjava.blogspot.com/l

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.