15 Lagu Wajib Nasional – Uji Coba

CD Cover

3 tahun sudah saya habiskan waktu untuk menggarap sebuah musik konsep, yakni 15 Lagu Wajib Nasional, yang diarransemen memang untuk sebagai alat bantu meningkatkan nilai2 Patriotisme dan Nasionalisme Bangsa. Ke 15 Lagu karya adiluhung putra Bangsa Indonesia ini, ruh nya harus sampai di segenap pelajar Indonesia. Tapi memang ini baru tahap uji coba. Paling tidak di lingkungan kota saya, Bandung. Insya Allah bila tercapai, akan dikomunikasikan untuk pelajar Indonesia.
http://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F21035734 MARS KEMERDEKAAN by djawilproject

Tawuran Pelajar, Siapa yang peduli.

Menonton pertunjukan jalanan ini memang bergidik ngeri. Para pelajar, khususnya berseragam abu itu, entah setan apa yang merasuk dalam pikiran mereka sehingga mereka kesetanan, membabi buta bertarung dengan lawan-lawannya di jalan raya. Jakarta, di jl. Daan Mogot, area pertarungan itu membuat lingkungan di sekitarnya merasa sangat terganggu. Mereka (pelajar) sama sekali tak ada rasa peduli dan rasa kasihan, atau mengerti tentang kepentingan umum. Miris rasanya, melihat pelajar ini merayakan selesai Ujian Nasional dengan bertawuran ria… batu-batupun berseliweran. Siapapun di dekatnya yang kebetulan berada disana, sial pun akan dialaminya.  Kaca mobilpun pecah, mobil box disemprot cat pilox, dll.

Sepeda motor yang dimanati oleh orang tua mereka, dipacu sekencang-kencangnya sambil mengacungkan celurit, golok, samurai, tongkat, dan benda-benda penghancur. Mungkin mereka terinspirasi film the Patriot. Perang sadis antara Amerika Utara dan Selatan.

“Saya sendiri tidak tahu masalahnya apa, tapi beberapa hari sebelumnya ada teman kami yang dikeroyok. Mereka (SMU Gama) menggunakan gir bekas motor, dan saya bawa celurit hanya untuk jaga diri saja. Saat terjadi tawuran kemarin, saya pake,” ucap pelajar SMA Bokri II Yogyakarta, Febrian (18) yang baru menyelesaikan Ujian Nasional pada 18-20 April kemarin di Mako Polsekta Gondokusuman Yogyakarta, Jum’at (22/4/2011).

Komentar pun bermunculan menanggapi dari persoalan ini. Ada yang menuding sekolah tak becus mengurus siswanya, termasuk gurunya, termasuk Depdiknas. Ada yang menuding masyarakat lah yang memberi peluang. Ada yang mengungkit-ngungkit politis dan contoh buruknya. Menyalahkan sikap represif polisi. Orang tua dan keluarga. Dan seterusnya…

Lalu sebenarnya siapa biang kerok semua ini? Dan bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk mengendalikan para remaja-remaja ini? Saya ingin mengajak diskusi Anda….

Pemikiran praktis saya, bagaimanapun pendidikan seseorang bermula dari keluarga. Keluarga lah yang paling memegang peranan penting terhadap pembentukan karakter anak. Orangtua menitipkan ke sekolah bukan berarti segala urusan pendidikan selesai. Terkadang saya melihat bagaimana para orangtua kurang memberikan perhatiannya terhadap perkembangan anak di luar sekolah. Lembaga yang disebut sekolah ini hanya sebagian kecil saja dari pembentukan karakter dan kepribadian.

Sebuah pengalaman pribadi sebagai guru, anak-anak harus disibukkan dengan berbagai aktivitas yang bersifat kreatif. Membangunkan segala potensi yang dimilikinya sehingga lebih berharga. Dengan berkesenian, berolahraga, atau pengembangan karya-karya lainnya adalah langkah yang kiranya akan berdampak positif pada pemanfaatan waktu. Anak akan lebih merasa dirinya sangat berharga. Berikan harapan-harapan yang ada di depan sana. Saya sepertinya berkeyakinan anak-anak tak akan membuang waktu percuma dengan perilaku yang menyimpang.

Komentar Anda????

Mengajar Berbasis Otak Kanan dan Otak Kiri

Mengajar haruslah melibatkan otak kiri dan kanan siswanya. Jika tidak melibatkan kedua fungsi otak itu, ketidakseimbangan akan terjadi bagi diri siswa. Potensi salah satu otak itu akan lemah dan semakin lemah. Untuk itu, semua guru ketika mengajar haruslah menggunakan strategi pelibatan otak kiri dan kanan siswanya.

Otak manusia dibagi menjadi dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri dengan fungsi yang berbeda. Otak kanan diidentikkan tentang kreativitas, persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Sedangkan otak kiri biasa diidentikkan dengan rapi, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear, dan tahap demi tahap.

Seorang peneliti bernama Roger Sperry (1960) menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri,akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa, dan matematika.

Berdasarkan kekuatan fungsi masing-masing, berarti, kedua fungsi otak manusia itu sangat diperlukan dalam menghadapi hidup. Begitu pula, bagi siswa, pembiasaan penggunaan kedua fungsi otak itu sangat bermanfaat dalam perjalanan dirinya menuju kedewasaan. Dengan begitu, guru dalam mengajar di kelas, metode apapun yang digunakan, sebaiknya berbasis otak kanan dan kiri.

Berikut ilustrasi guru yang mengajar selalu berbasis otak kiri saja. Ilustrasi berikut diambil dari blog Heriyono. Seorang guru yang mengajar berhitung untuk kelas 3 SD, Masuk kelas dengan malas. ”Anak-anak, sekarang kita belajar berhitung,” kata guru. ”Jumlahkan bilangan : 1+2+3+4+5+6+7+…. dan seterusnya sampai terakhir tambah 2000 !” perintah guru. Guru tersebut berfikir bahwa anak-anak tidak akan mampu menyelesaikan tugas tersebut, yaitu menjumlahkan bilangan dari 1 sampai 2000 dalam waktu 2 jam – bahkan jika pakai kalkulator sekalipun. Sehingga guru tersebut dapat duduk-duduk santai saja.

Tetapi tidak. Hanya dalam waktu sekitar 1 menit, seorang murid mengacungkan tangan dan berkata ”Saya bisa, saya sudah selesai”. Guru tersebut kaget, ”Mana mungkin,” pikirnya. Tetapi murid tersebut memang bisa, dan benar. Ia mengatakan jawaban dari soal itu adalah 2.001.000. Bagaimana caranya?

Murid itu mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dan cepat karena menggunakan otak kanan dan otak kiri secara harmonis. Otak kiri berpikir dengan cara urut, bagian perbagian, dan logis. Sementara otak kanan melengkapinya dengan cara berpikir acak, holistik, dan kreatif.

Jika kondisi di atas dijaga dan dibimbing oleh guru yang paham dengan fungsi otak kiri dan kanan, anak tersebut pasti akan lebih diperkuat dan dimotivasi untuk terus melakukan kreativitas lagi. Bahkan, anak-anak lain diajak untuk semakin berpikir kreatif. Sebaliknya, jika siswa itu dihadapi oleh guru yang juga hanya berpikir otak kiri, siswa itu pastilah akan mendapatkan cercaan, makian, bahkan mungkin pukulan.

Saat kita belajar di sekolah misalnya, kita biasa dituntut untuk berpikir urut dan logis saja. Tetapi, seperti telah kita lihat dalam contoh anak kelas 3 SD di atas, kita perlu menggunakan setengah kemampuan yang lainnya yaitu otak kanan. Kita memang perlu keberanian untuk mencoba menggunakan otak kanan yang berpikir secara acak, menyeluruh dan kreatif itu. Sebagimana seekor burung dapat terbang bebas menggunakan dua sayapnya, sayap kiri dan kanan. Demikian juga kita, manusia dapat menerbangkan kecerdasan otak, kecerdasan berpikir setinggi langit dengan sayap-sayapnya, otak kiri dan otak kanan.

BERSIAPLAH MENERIMA KOMERSIALISASI PENDIDIKAN

Iklan di media televisi kita “kalau ayahnya tukang antar koran, anaknya bisa jadi wartawan“. Iklan tersebut penggambarkan bagaimana usaha pemerintah menempatkan pendidikan sebagai program unggulan.

Tetapi apakah ini memang sesuai kenyataan ?

Pertama. Mari kita lihat sekeliling kita. Bagaimana  saat ini seluruh Orangtua gelisah menantikan masuknya tahun ajaran baru. Selain kegelisahan akan sistem penerimaan siswa baru (PSB), pastilah yang berikutnya adalah persoalan biaya. Mungkin untuk SD dan SMP masih ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk menggantikan DSP dan SPP. Artinya sekolah masih bisa di gratiskan. Tetapi di tingkat SMA tidak. Di SMA masih dipersilakan kepada sekolah untuk mencari sumbangan (DSP) dari orangtua siswa. Besarnya biasanya ditetapkan oleh sekolah bersama para orangtua siswa melalui jalan musyawarah. Yang berikutnya adalah bagaimana melengkapi seluruh kebutuhan putra-putrinya. Mulai dari seragam sekolah, tas, buku, dll…. Biasanya para vendor berlomba-lomba menawarkan semua itu dengan janji-janji yang manis.

Jadi siapa bilang sekolah itu GRATIS…!!??

Kedua. Sekarang menjadi sebuah symbol untuk mengangkat predikat sekolah. Sekolah-sekolah berstatus negeri berlomba-lomba untuk menempelkan label-label tambahan di belakang nama sekolah tersebut. Label itu diantaranya : SSN (Sekolah Standar Nasional), RSBI /SBI (Rencana Sekolah Bertaraf Internasional), SKM (Sekolah Kategori Mandiri), dll. Ini  sangat memusingkan masyarakat/orangtua. Untuk apa? Idealnya memang untuk mengangkat harkat pendidikan yang dikelola sekolah. Kenyataannya sama-sama saja. Produk siswa juga tidak terangkat karena label-label itu. Yang lebih menyedihkan lagi, sekolah-sekolah yang telah berlabel, diperbolehkan untuk memilih siswanya sendiri melalui program tes khusus (???). Lalu setelah dinyatakan diterima, siswa dikenakan biaya yang khusus. Kabarnya di salah satu sekolah di Bandung (SMA) menetapkan tarif sebesar 8 juta rupiah. Wow…? Jumlah yang tidak sedikit. Ini hampir menyerupai cara2 Perguruan Tinggi Negeri menerima mahasiswa melalui jalur tes khusus, di depan sebelum mahasiswa reguler. Setelah dinyatakan diterima, tanyakan saja berapa biaya yang harus dikeluarkan. Padahal… semuanya sama-sama sekolah negeri. Sekolah yang di biayai keringat rakyat Indonesia melalui pajak.

Saya secara pribadi agak pesimis apakah memang betul biaya-biaya yang tinggi itu akan mengangkat derajat pendidikan kita.  Kelulusan siswa saja masih harus melalui konversi angka…

Jadi… BERSIAPLAH UNTUK MENERIMA KENYATAAN, KOMERSIALISME DALAM PENDIDIKAN KITA….

Pil Dextro yang membawa maut

Membaca salah satu artikel harian PR (10/5), ternganga dan setengah tak percaya. Puluhan pelajar SMP di kota Garut (Jawa Barat) yang berusia belia ramai-ramai menenggak pil Dextro (obat batuk) hingga puluhan butir sekaligus. Sebagai obat batuk biasa, sesuai dengan dosisnya, tentunya tidak akan memberikan reaksi begitu parah.  Dikabarkan 2 orang pelajar itu mencicipi rasanya mati sia-sia. Dan beberapa pelajar lainnya terkapar di rumah sakit. Bayangkan saja pil ditelan sekaligus sebanyak 20 hingga 40 butir. Mereka pikir ini bisa membuat FLY alias teler. Entah info darimana datangnya sehingga mereka nekat. Atau ada provokasi orang-orang dewasa di belakang itu.

Yang jadi pertanyaan adalah  sebegitu jauhkan siswa-siswa sekolah frustasi akan kehidupannya? Apa yang membuat mereka stress? Atau barangkali ini adalah akibat pengaruh luar yang begitu kuat terhadap anak-anak kita? Kemana peran pendidikan yang dilakukan sekolah dan keluarga ?

Konflik Otak

warna

Cobalah menyebutkan warna-warna pada gambar secara cepat. Kesulitan?

 

Saat melihat warna maka otak kanan yang abstrak dengan segera mengambil peran. Saat itu kita tahu apa warna-warna apa yang ada. Namun saat akan mengucapkan nama warna, otak kiri yang sistematik ganti mengambil peran. Otak kiri ini cenderung membaca tulisan di atas warna. Hasilnya adalah kita kesulitan menyebutkan warna-warna tersebut. Kita tahu warnanya, namun salah mengucapkan namanya.

 

Ketika kita sadar, dan kemudian berusaha menekan informasi dari kata-kata, barulah kita dapat menyebutkan nama warna dengan benar. Itupun dengan agak susah payah. Sudah dicoba?

Identifikasi Masalah Remaja di Kota

Seorang ibu suatu ketika bertutur kepada penulis, anaknya pada saat sekolah di bangku SD dan SMP memiliki reputasi yang gemilang. Peringkat atas selalu diraihnya setiap pembagian rapor. Oleh karena itu ia sangat disayang gurunya. Tentunya ibu tersebut bangga memiliki anak seperti ini. Tapi koq sekarang di SMA, bolak-balik ibu tersebut harus datang ke sekolah karena surat panggilan dari sekolah. Masalahnya bermacam-macam, mulai terlambat datang ke sekolah, membolos, hingga pelanggaran-pelanggaran berat, seperti merokok di area sekolah dan juga kasus perkelahian. Ibu tersebut tak habis pikir kenapa anaknya berubah begitu drastis. Di rumah pun seringkali pulang larut malam. Ditanya, komunikasi pun tidak lancar. Jawabnya cuma baik dan biasa saja, atau bermacam alasan. Ketika pembagian rapor, jangankan peringkat atas. Untuk peringkat bawahpun ibu tersebut harus menahan nafas, nilai begitu anjlok, dibawah standar nilai.

 

Baiklah pengunjung situs yang budiman, ilustrasi di atas barangkali adalah hanya sebuah gambaran umum yang banyak dijumpai para orangtua. Ketika anak memasuki dunia remajanya, sederet masalah banyak menghampiri mereka. Umumnya masalah-masalah ini hampir tidak berhubungan dengan persekolahannya. Dan akhirnya ini menjadi penghambat untuk kemajuan pendidikannya. Padahal energi yang dimiliki remaja begitu besar untuk melakukan pengembangan diri ke arah hal-hal positif.

 

Sekadar untuk referensi, sebuah hasil penelitian terhadap kenakalan remaja yang pada umumnya dikategorikan sebagai anak bersekolah  di kota besar adalah sebagai berikut :

 

Bentuk Kenakalan

Persentase

1. Berbohong

100 %

2. Pergi keluar rumah tanpa pamit

100 %

3. Keluyuran

93.3 %

4. Begadang

98.3 %

5. Minum-minuman keras

83.3 %

6. Penyalahgunaan Narkotika

73.3 %

7. Kebut-kebutan

63.3 %

8. Berkelahi dengan teman

56.7 %

9. Hubungan sex di luar nikah

40 %

10. Berjudi

33.3 %

11. Membolos

23.3 %

12. Melihat gambar porno

23.3 %

13. Menonton film porno

16.7 %

Masngudin HMS, dikutip dari htttp://www.depsos.go.id/Puslitbang/

 

Data tersebut diambil dari responden yang berjumlah hanya 30 remaja, 27 laki-laki – 3 perempuan, berusia 13 – 21 tahun. Terbanyak mereka yang berumur 18 – 21 tahun. Meskipun penelitian ini agak meragukan (penulis), karena jumlah responden dianggap tidak mewakili, tetapi ini membuat banyak orangtua miris mendengarnya. Betulkah sudah begitu rusaknya generasi muda bangsa ini? Dan siapakah yang patut disalahkan? Keluarga kah? Lingkungan kah? Atau barangkali sekolah kah?

 

Para pengunjung situs yang budiman, kebetulan penulis adalah seorang pendidik di salah satu SMA di kota Bandung, yang notabene para siswa berasal dari multi kultur keluarga. Dan penulis memang sehari-hari berkecimpung dalam aktivitas para siswa yang bersifat membangun kreativitas remaja. Setidaknya dalam aktivitas tersebut, penulis memiliki hubungan tersendiri dengan para siswa. Sambil beraktivitas,  penulis dalam sekian masa mencoba membaca apa yang terjadi atas perkembangan remaja atau siswa di sekolah. Beberapa masalah yang kerap terjadi di sekolah, dan barangkali hal ini juga terjadi hampir di semua sekolah kota diantaranya :

  1. Mengabaikan atau pelanggaran tata tertib sekolah, khususnya tentang berpakaian dan berpenampilan.
  2. Membolos pada mata pelajaran tertentu.
  3. Merokok di lingkungan sekolah.
  4. Terlambat masuk sekolah.
  5. Berpacaran di lingkungan sekolah yang cenderung agresif, ditempat terbuka, tanpa ada perasaan malu atau risih.
  6. Geng siswa, atau kelompok siswa dengan tanpa identitas jelas.
  7. Pertikaian antar siswa.
  8. Perkelahian antar sekolah.
  9. Hegemoni siswa senior.
  10. Provokasi cenderung negatif dari alumni.
  11. Tidak peduli terhadap kebersihan dan keindahan lingkungannya, termasuk coret mencoret dinding sekolah dan fasilitas sekolah.
  12. Penggunaan psikotropika dan narkotika.
  13. Nongkrong di luar area sekolah, seperti tempat game atau internet.
  14. Pencurian barang siswa lain saat lengah.
  15. dll

 Meskipun ini belum sampai ke tahap penelitian, tapi paling tidak sebagai ilustrasi kondisi masalah siswa adalah seperti demikian. Tentu saja tidak semua sekolah memiliki permasalahan yang sama. Prediksi awal hal-hal yang dapat memberi pengaruh, seperti :

  1. Sistem disiplin sekolah yang kurang terjaga.
  2. Lingkungan sekitar sekolah yang tidak kondusif.
  3. Peran sentral guru sebagai pendidik sedikit mulai menurun.
  4. Terlambatnya guru dalam mengikuti perkembangan informasi dan teknologi.
  5. Pemberian waktu untuk beraktivitas sosial hampir tidak ada, karena waktu habis untuk kegiatan tambahan belajar .
  6. Tuntutan akan nilai tinggi berwujud angka dari hasil belajar.
  7. Frustasi akan beban belajar yang berlebihan, akibat dari tuntutan kurikulum.
  8. Tidak tertampungnya keinginan aktivitas siswa yang sesuai dengan trend di masyarakat.
  9. Mudahnya mengakses informasi global melalui media masa ataupun internet.
  10. Budaya masyarakat yang semakin instan serta hilangnya nilai-nilai sosial.
  11. Menurunnya apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai kreativitas.
  12. Hilangnya figur-figur, baik di masyarakat ataupun keluarga.
  13. Frustasi pada kehidupan keluarga yang tidak harmonis, kesulitan ekonomi, dll.
  14. Kontrol keluarga dan masyarakat yang mulai berkurang.
  15. dll

Peserta workshop yang budiman, jika kita mencoba hubungkan permasalahan siswa di sekolah dengan kenakalan remaja (data di atas), ada benarnya dan juga tidak. Kadang sebagai seorang guru kami tidak bisa menjangkau seluruh wilayah siswa. Apalagi yang bersifat pribadi. Remaja sekarang berbeda. Pandai beralibi, sangat protektif atas sesuatu yang tidak harus diketahui guru.

Demikian kiranya pemaparan penulis tanpa sedikitpun untuk menggurui, tetapi sekedar untuk membuka wacana kita. Terimakasih.

 

Tulisan ini disampaikan dalam Workshop Guru BP dan Wakasek Kesiswaan, 2007, di Bandung yang diselenggarakan oleh Forum Psikolog Bandung..

Nasionalisme di kalangan Pelajar

Saya yang memang sebagai pendidik di sebuah SMA di Bandung, sebagai seorang guru tentunya hampir selalu seminggu sekali harus mendampingi para siswa berbaris di sebuah ritual sekolah yang namanya ‘Upacara Bendera’. Upacara…? Hm.. kata yang dimaknai dengan penuh aturan yang kaku, cenderung berada di bawah panji kedisiplinan. Berdiri tegak di bawah terik matahari, tanpa bicara, tatapan condong ke depan. Bagi siapa saja tentunya ini akan menjadi beban meskipun hanya berlangsung 30 menit. Menyebalkan…
Pertanyaannya ‘Buat apa…?’
Saya sendiri koq bingung pertanyaan ini. Yaaa… paling tidak mereka yang berdiri disana supaya tidak kosong, harus bisa menikmati seperti nonton pertunjukan musik..??!!@@# Ya nggak bisa bisa dong.. mereka kan harus berlatih disiplin, belajar menghargai, dan yang paling penting tumbuh rasa ‘nasionalisme kebangsaan’. Apa itu bisa? Coba saja murid-murid sekarang, pernahkan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ dengan gegap gempita? Wah.. jarang.. itu hanya bisa ditemukan di upacara di tingkat nasional. Lagu yang seharusnya menjadi simbol heroisme kepahlawanan, rasanya hanya keluar dari mulut dengan sedanya. Lalu, ketika bendera itu dikibarkan, penghormatan pun hanya sekedar formalitas tangan menyentuh dahi. Lalu apa makna semua itu ?
Nasionalisme di kalangan para remaja atau anak sekolah sudah mulai memudar. Benarkah mereka bangga menjadi bagian dari ‘Indonesia’ ? Ataukah sudah tidak ada yang peduli lagi pada tempat kita ini? Indonesia tidak butuh penghormatan, tetapi lebih dari itu, yaitu ditanamkan dalam-dalam di seluruh darah yang mengalir di tubuh kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.