MUDIK LEBARAN TRADISI ATAU KEHARUSAN

Lebaran memang sudah lewat dengan meninggalkan berjuta-juta kenangan dan berjuta-juta catatan di rentenir dan pegadaian. Demi apa? Demi menyatukan romantisme sisa-sisa ikatan darah antara ayah dan anak, ibu dan anak, anak dan eyangnya, buyutnya, seseorang dengan teman-teman di kampung, Mungkin  ketika tiba di kampung, seolah-olah sebagai petugas pencatat warga. Mendata semua orang yang pernah terlintas di perjalanan hidup seseorang. Si Minah yang dulu menjadi kembang desa kini menjadi TKW di negeri seberang. Minah selalu mengirimkan uang hasil usahanya ke suaminya yang ditinggal untuk mengurus anak. Lalu si Dudi, teman main layangannya semasa kecil kini sudah lama berlayar. Sebagai awak kapal di sebuah kapal tanker tak pernah pulang. Lalu si Kodir, sekarang sudah disibukkan dengan urusan sebagai kader salah satu partai. Memang mudik adalah mengais-ngais sisa kenangan lama. Kampungnya tidak seperti dulu lagi. Tak ada bedanya orang-orang di kampong dengan kota. Hilir mudik sepeda motor meraung-raung tak henti-hentinya. Gaya hidup kota kini menjelajah kehidupan kampong. 

Mudik adalah sebuah peristiwa yang sangat luar biasa orang-orang rela berdesakan di atas bis yang menghantarkan mereka ke kampong, rela mengantri dalam macetnya jalanan, rela mengorbankan anak sendiri di bawah terpaan ganasnya cuaca musim kering di atas jok sepeda motor, terus bersabar jika di depan ada mobil mogok dan kendaraan kita tak bergerak, rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk segala itu. Jika tidak cukup hati-hati di jalan, korbanpun bisa berjatuhan secara tragis. Yang tersisa hanya tangisan yang sangat menyesakkan.

Lebaran pun usai. Dan kini orang-orang kembali ke kota untuk menuai nasib. Terbayarkah semua yang sudah dikorbankan demi lebaran. Tentu saja jawabannya ada di benak Anda semua.

PILKADA OH PILKADA…

Atas nama demokrasi terbuka, Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah baik di tingkat propinsi maupun di kabupaten/kota muncul sebagai fenomena baru di tanah air ini. Untuk apa? Tidak lain hanya untuk memilih satu dari pasangan calon yang diusung partai. Efektifkah?

Mari kita renungkan sedikit tentang berapa besar dana yang dihabiskan untuk satu kali pilkada di satu kota atau kabupaten. Satu pasangan calon akan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Isunya bisa mencapai kisaran 3 sampai 5 M. Belum lagi bila para calon menjual pesona melalui media televise. Kabarnya sekali tayangan bisa berharga puluhan juta. Dari mana uang yang begitu besar itu? Bisa saja dari kantong pribadi (jika memang kaya) atau sokongan para donasi yang tentunya biasanya tidak gratis. Ada kontrak politis. Lalu biaya yang dibutuhkan untuk sekali Pilkada itu berapa di tingkat kota/kab? Kabarnya bisa mencapai 30 M yang dananya bersumber dari ABPD setempat. Lalu bagaimana jika ini di tingkatan yang lebih tinggi, di tingkat propinsi. Pasti akan berlipat-lipat. Tergantung luas propinsi, jumlah pemilih, dll. Sekarang, berapa banyak kab/kota di Indonesia. Sekitar 200 kab/kota. Wow… sebuah angka yang fantastis jika itu semua kita kalikan.

Pertanyaannya apakah ,menjamin terselenggaranya Pilkada di dejumlah daerah akan memajukan daerah itu. Apakah sebanding nilai uang yang dikeluarkan dengan hasil yang dicapai (walikota/bupati baru atau gubernur baru). Apa dampak yang mengarah kepada sesuatu hal yang positif  bagi masyarakat di daerah itu. Tak ada yang bissa menjawab!! Dan tidak tidak lain hanya penguasa baru.

Dana yang begitu mengalir itu, tentunya luar biasa. Jika dibandingkan tingkat kesulitan hidup masyarakat yang terus menerus didera kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok, tentunya sangat ironis. Di lain pihak masyarakat kita berusaha survivel (bertahan hidup), pilkada dengan dana yang luar biasa ini hanya memberi jalan kepada para penguasa baru untuk berlomba-lomba meraih keuntungan dari jabatan barunya.

Kembali masyarakat dihadapkan pada janji-janji manis para jargon nya yang tak kunjung terpenuhi. Sementara para penguasa baru memperluas kongsinya untuk mengembalikan semua hutang yang ditinggalkan dari pilkada. Mungkin beruntunglah jika calon memang terpilih dalam proses itu. Lalu bagaimana yang kalah?

Identifikasi Masalah Remaja di Kota

Seorang ibu suatu ketika bertutur kepada penulis, anaknya pada saat sekolah di bangku SD dan SMP memiliki reputasi yang gemilang. Peringkat atas selalu diraihnya setiap pembagian rapor. Oleh karena itu ia sangat disayang gurunya. Tentunya ibu tersebut bangga memiliki anak seperti ini. Tapi koq sekarang di SMA, bolak-balik ibu tersebut harus datang ke sekolah karena surat panggilan dari sekolah. Masalahnya bermacam-macam, mulai terlambat datang ke sekolah, membolos, hingga pelanggaran-pelanggaran berat, seperti merokok di area sekolah dan juga kasus perkelahian. Ibu tersebut tak habis pikir kenapa anaknya berubah begitu drastis. Di rumah pun seringkali pulang larut malam. Ditanya, komunikasi pun tidak lancar. Jawabnya cuma baik dan biasa saja, atau bermacam alasan. Ketika pembagian rapor, jangankan peringkat atas. Untuk peringkat bawahpun ibu tersebut harus menahan nafas, nilai begitu anjlok, dibawah standar nilai.

 

Baiklah pengunjung situs yang budiman, ilustrasi di atas barangkali adalah hanya sebuah gambaran umum yang banyak dijumpai para orangtua. Ketika anak memasuki dunia remajanya, sederet masalah banyak menghampiri mereka. Umumnya masalah-masalah ini hampir tidak berhubungan dengan persekolahannya. Dan akhirnya ini menjadi penghambat untuk kemajuan pendidikannya. Padahal energi yang dimiliki remaja begitu besar untuk melakukan pengembangan diri ke arah hal-hal positif.

 

Sekadar untuk referensi, sebuah hasil penelitian terhadap kenakalan remaja yang pada umumnya dikategorikan sebagai anak bersekolah  di kota besar adalah sebagai berikut :

 

Bentuk Kenakalan

Persentase

1. Berbohong

100 %

2. Pergi keluar rumah tanpa pamit

100 %

3. Keluyuran

93.3 %

4. Begadang

98.3 %

5. Minum-minuman keras

83.3 %

6. Penyalahgunaan Narkotika

73.3 %

7. Kebut-kebutan

63.3 %

8. Berkelahi dengan teman

56.7 %

9. Hubungan sex di luar nikah

40 %

10. Berjudi

33.3 %

11. Membolos

23.3 %

12. Melihat gambar porno

23.3 %

13. Menonton film porno

16.7 %

Masngudin HMS, dikutip dari htttp://www.depsos.go.id/Puslitbang/

 

Data tersebut diambil dari responden yang berjumlah hanya 30 remaja, 27 laki-laki – 3 perempuan, berusia 13 – 21 tahun. Terbanyak mereka yang berumur 18 – 21 tahun. Meskipun penelitian ini agak meragukan (penulis), karena jumlah responden dianggap tidak mewakili, tetapi ini membuat banyak orangtua miris mendengarnya. Betulkah sudah begitu rusaknya generasi muda bangsa ini? Dan siapakah yang patut disalahkan? Keluarga kah? Lingkungan kah? Atau barangkali sekolah kah?

 

Para pengunjung situs yang budiman, kebetulan penulis adalah seorang pendidik di salah satu SMA di kota Bandung, yang notabene para siswa berasal dari multi kultur keluarga. Dan penulis memang sehari-hari berkecimpung dalam aktivitas para siswa yang bersifat membangun kreativitas remaja. Setidaknya dalam aktivitas tersebut, penulis memiliki hubungan tersendiri dengan para siswa. Sambil beraktivitas,  penulis dalam sekian masa mencoba membaca apa yang terjadi atas perkembangan remaja atau siswa di sekolah. Beberapa masalah yang kerap terjadi di sekolah, dan barangkali hal ini juga terjadi hampir di semua sekolah kota diantaranya :

  1. Mengabaikan atau pelanggaran tata tertib sekolah, khususnya tentang berpakaian dan berpenampilan.
  2. Membolos pada mata pelajaran tertentu.
  3. Merokok di lingkungan sekolah.
  4. Terlambat masuk sekolah.
  5. Berpacaran di lingkungan sekolah yang cenderung agresif, ditempat terbuka, tanpa ada perasaan malu atau risih.
  6. Geng siswa, atau kelompok siswa dengan tanpa identitas jelas.
  7. Pertikaian antar siswa.
  8. Perkelahian antar sekolah.
  9. Hegemoni siswa senior.
  10. Provokasi cenderung negatif dari alumni.
  11. Tidak peduli terhadap kebersihan dan keindahan lingkungannya, termasuk coret mencoret dinding sekolah dan fasilitas sekolah.
  12. Penggunaan psikotropika dan narkotika.
  13. Nongkrong di luar area sekolah, seperti tempat game atau internet.
  14. Pencurian barang siswa lain saat lengah.
  15. dll

 Meskipun ini belum sampai ke tahap penelitian, tapi paling tidak sebagai ilustrasi kondisi masalah siswa adalah seperti demikian. Tentu saja tidak semua sekolah memiliki permasalahan yang sama. Prediksi awal hal-hal yang dapat memberi pengaruh, seperti :

  1. Sistem disiplin sekolah yang kurang terjaga.
  2. Lingkungan sekitar sekolah yang tidak kondusif.
  3. Peran sentral guru sebagai pendidik sedikit mulai menurun.
  4. Terlambatnya guru dalam mengikuti perkembangan informasi dan teknologi.
  5. Pemberian waktu untuk beraktivitas sosial hampir tidak ada, karena waktu habis untuk kegiatan tambahan belajar .
  6. Tuntutan akan nilai tinggi berwujud angka dari hasil belajar.
  7. Frustasi akan beban belajar yang berlebihan, akibat dari tuntutan kurikulum.
  8. Tidak tertampungnya keinginan aktivitas siswa yang sesuai dengan trend di masyarakat.
  9. Mudahnya mengakses informasi global melalui media masa ataupun internet.
  10. Budaya masyarakat yang semakin instan serta hilangnya nilai-nilai sosial.
  11. Menurunnya apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai kreativitas.
  12. Hilangnya figur-figur, baik di masyarakat ataupun keluarga.
  13. Frustasi pada kehidupan keluarga yang tidak harmonis, kesulitan ekonomi, dll.
  14. Kontrol keluarga dan masyarakat yang mulai berkurang.
  15. dll

Peserta workshop yang budiman, jika kita mencoba hubungkan permasalahan siswa di sekolah dengan kenakalan remaja (data di atas), ada benarnya dan juga tidak. Kadang sebagai seorang guru kami tidak bisa menjangkau seluruh wilayah siswa. Apalagi yang bersifat pribadi. Remaja sekarang berbeda. Pandai beralibi, sangat protektif atas sesuatu yang tidak harus diketahui guru.

Demikian kiranya pemaparan penulis tanpa sedikitpun untuk menggurui, tetapi sekedar untuk membuka wacana kita. Terimakasih.

 

Tulisan ini disampaikan dalam Workshop Guru BP dan Wakasek Kesiswaan, 2007, di Bandung yang diselenggarakan oleh Forum Psikolog Bandung..

MINUM MIRAS BERJAMA’AH di Indramayu

Wuihhh..ada apa dengan manusia Indonesia masa kini. Koq bisa-bisanya masyarakat petani yang notabene kalangan bawah beramai-ramai menenggak minuman keras (miras) oplosan. Peristiwanya koq bisa-bisanya di saat-saat orang-orang merayakan hari raya idul fitri 1429 H, atau tahun 2008 ini. Ini adalah kedua kalinya terjadi di Indramayu. Tercatat, 10 orang mati konyol , dan 200 orang terkapar di rumah sakit. Pertanyaannya adalah mengapa ini sudah menjadi tradisi. Vodka oplosan dijual murah. Apa mereka frustasi? Apa mereka memang merayakan lebaran? Apa mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Gini koq dibiarin. Emangnya gua pikirin? Mana peran lembaga masyarakat desa yang diharapkan menjadi lembaga pengontrol yang dianggap mampu mengendalikan masyarakat.

Penting Nggak Penting…

MUDIK artinya kembali ke udik. Bagi banyak orang, maksudnya pulang ke kampung halaman tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Jauh atau dekat itu relatif. Ada orang yang benar-benar pulang ke kampung tempat orang tua atau aki-nininya lahir, ada pula orang yang sekadar pulang dari Jakarta ke Kota Bandung, tempat ia menyelesaikan SMA. Pulang dari Jakarta ke Bandung, Asep kemudian akan melanjutkan mudiknya ke Tasikmalaya, tepatnya ke kampung Cikoneng, tempat neneknya lahir seratus tahun lalu.

Mengapa orang ingin mudik? Untuk kangen-kangenan? Rasanya bukan itu, sebab banyak orang baru merantau kurang dari setahun ketika Lebaran berikutnya tiba. Kangen? Kecup ibunda di dahi pun belum kering, kok sudah kangen? Menghabiskan hari libur? Nah, alasan ini barangkali lebih kena bagi sebagian besar di antara kita. Normalnya hanya pada Idulfitri kita menikmati libur cukup panjang yang diperhitungkan sebagai cuti bersama. Ditambah dengan cuti pribadi yang digabungkan, kita punya waktu luang kira-kira satu atau dua minggu. Maka, kita mudik.

Mudik dimulai dengan memperebutkan karcis bis atau kereta api ekonomi dan mempersiapkan mobil pribadi bagi orang kaya. Kenikmatan setelah mencapai tujuan biasanya cukup untuk menghapus segala jerih payah dan perjuangan kita. Saran tahun ini hanya agar jangan membawa barang banyak-banyak, sebab di kampung sekarang apa pun sudah tersedia, mulai dari jelly drink, biskuit aneka merek, sirup, sampai sandal dan sarung. Bawa saja uangnya, sekalian untuk mentraktir keponakan-keponakan naik odong-odong nanti.

KITA pasti disambut dengan suka cita oleh mereka, keluarga kita sendiri, handai tolan, dan para tetangga. Ibu akan memasak sayur lodeh satu panci dan menggoreng ayam serta membuat tape ketan. Setelah memeluk kita, ibu akan menangis dan mulai bercerita. Tentang Pak Maskip yang anaknya diterima menjadi taruna Akabri di Magelang, tentang Bu Sri yang uangnya dilarikan penyelenggara arisan Lebaran, tentang Surti yang hamil sebelum menikah, tentang Akiong yang ketagihan ekstasi, dan tentang Iis yang ibunya beberapa kali menanyai kita sudah kawin atau belum. Mata ibu sekali lagi berkaca-kaca saat kita berkata sudah naik pangkat dan naik gaji bulan lalu.

Ayah tiba-tiba kini menjadi pendiam dan pendengar yang baik. Kita tahu ayah bangga, tetapi ia gengsi menitikkan air mata. Ayah sesekali cuma menjawab dengan satu-dua patah kata bernada rendah guna menjaga wibawa. Ayah tidak berubah kecuali bertambah tua. Dengan tetap memakai kacamata lama berbingkai batok kura-kura ia tampak lebih tua lagi. Setiap kali mudik kita membelikan ayah kemeja batik baru, tetapi ayah mengenakan kemeja batik yang sama pada setiap hari raya selama lima tahun terakhir ini. Ayah juga menyandang celana panjang, sabuk, sandal, dan peci lama bila pergi salat Id. Sajadah yang digelar ayah adalah sajadahnya sejak belum menikah.

 Kakak tersenyum sinis tertahan melihat kita. Bila ada kesempatan ia akan sekali lagi mencercah gaya hidup orang kota. Kakak sama konservatifnya dengan ayah, namun banyak bicara seperti ibu.

Adik, jelas, akan minta duit. Ia tidak mau dibelikan pakaian atau makanan. Dengan duit ia dapat membawa pacarnya makan bakso atau minum es campur. Adik pun lebih suka memilih dan membeli pakaiannya sendiri, kaus oblong ungu bersablon “Metallica”, celana jins low-waist yang mempertontonkan celana dalamnya, serta dompet berantai anjing. Kita seakan-akan menatap diri sendiri pada masa muda saat memandangnya. Kita lebih senang jika ia bergaul dengan Saodah yang berkerudung, tetapi adik mengaku sekarang berpacaran dengan Rina yang rambutnya disemir hijau dan biru serta bersepatu boot. Kita lantas lekas-lekas mencari waktu guna menitipkan nasihat kepada adik.

Nasionalisme di kalangan Pelajar

Saya yang memang sebagai pendidik di sebuah SMA di Bandung, sebagai seorang guru tentunya hampir selalu seminggu sekali harus mendampingi para siswa berbaris di sebuah ritual sekolah yang namanya ‘Upacara Bendera’. Upacara…? Hm.. kata yang dimaknai dengan penuh aturan yang kaku, cenderung berada di bawah panji kedisiplinan. Berdiri tegak di bawah terik matahari, tanpa bicara, tatapan condong ke depan. Bagi siapa saja tentunya ini akan menjadi beban meskipun hanya berlangsung 30 menit. Menyebalkan…
Pertanyaannya ‘Buat apa…?’
Saya sendiri koq bingung pertanyaan ini. Yaaa… paling tidak mereka yang berdiri disana supaya tidak kosong, harus bisa menikmati seperti nonton pertunjukan musik..??!!@@# Ya nggak bisa bisa dong.. mereka kan harus berlatih disiplin, belajar menghargai, dan yang paling penting tumbuh rasa ‘nasionalisme kebangsaan’. Apa itu bisa? Coba saja murid-murid sekarang, pernahkan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ dengan gegap gempita? Wah.. jarang.. itu hanya bisa ditemukan di upacara di tingkat nasional. Lagu yang seharusnya menjadi simbol heroisme kepahlawanan, rasanya hanya keluar dari mulut dengan sedanya. Lalu, ketika bendera itu dikibarkan, penghormatan pun hanya sekedar formalitas tangan menyentuh dahi. Lalu apa makna semua itu ?
Nasionalisme di kalangan para remaja atau anak sekolah sudah mulai memudar. Benarkah mereka bangga menjadi bagian dari ‘Indonesia’ ? Ataukah sudah tidak ada yang peduli lagi pada tempat kita ini? Indonesia tidak butuh penghormatan, tetapi lebih dari itu, yaitu ditanamkan dalam-dalam di seluruh darah yang mengalir di tubuh kita.

Telepon Neraka Tarif Lokal

Pada suatu pertemuan di Washington seorang pejabat Indonesia bertemu dengan pengusaha raksasa produsen telpon genggam. Cerita punya cerita sang produsen menawarkan produknya, sebuah HandPhone GSM yang bisa digunakan menghubungi kemana saja termasuk ke surga dan neraka.

Pejabat tersebut akhirnya mencoba menghubungi istrinya yang pertama yang telah meninggal akibat stroke setelah salah makanan….termasuk makan uang hasil korupsi sang suami.

 

Sang pejabat tersebut bertanya pada si Amerika ini, tentang berapa harus membayar untuk pembicaraan 3 menit tadi. Teryata mahal juga, sang pejabat harus membayar US$200. wah mahal juga tapi tak apalah …

 

Akhirnya Sang Pejabat tertarik membeli HP sejenis dan membawanya pulang ke Indonesia. Sampai di Indonesia dia menghubungi sang istrinya yang sudah meninggal tadi. Setelah berbicara hampir 1 jam dicek bahwa pembicaraan itu hanya menghabiskan US$10. Langsung dia menghubungi Si Amerika tadi: “Hai yang bener aja kemarin di Amerika saya pakai cuma tiga menit harus bayar US$200, mahal bener barusan di sini saya coba pakai 1 jam cuma US$10.”

Si Amerika dengan santainya menjawab, “Ya tentu saja…Indonesia khan dekat dengan neraka, tarifnya mungkin lokal”

Krisis Identitas Indonesia

Ketika saya menonton sepak bola piala Asia beberapa waktu yang lalu, Indonesia vs Arab Saudi, kata “INDONESIA” begitu membahana di seluruh area pertandingan. Puluhan ribu orang meneriakkan kata “Indonesia” dengan penuh heroik menyemangati tim Indonesia yang sedang bertarung. Rasanya bulu roma ini ikut berdiri. Di akhir cerita, Indonesia kalah terhormat dengan skor 2-1 ditangan tim Arab Saudi yang notabene Arab Saudi memang lebih unggul dalam segala hal.  Berlanjut dari sana, banyak orang begitu memuji perjuangan yang dilakukan oleh tim Indonesia.

Lalu saya teringat sebuah lagu karya almarhum Gombloh, yang syairnya “Indonesia, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatku, dst…”. Hm… seandainya itu semua memang benar-benar ada dan bukan euforia sesaat, bangsa ini sebenarnya sangat luar biasa. Jangan lupa Indonesia sebagai pewarisan dari Nusantara memiliki semuanya. Cerita yang sangat manis terdengar, Indonesia itu ibaratnya Zamrud Khatulistiwa. Begitu nyanyian alm Chrisye yang sangat mempesona. Dan saat kita kecil, di sekolah terus menerus diajarkan oleh guru-guru kita nyanyian-nyanyian pujian terhadap tanah ini. Indonesia yang negrinya makmur sentosa, alamnya kaya melimpah ruah, rakyatnya ramah dan rukun, hidup loh jinawi. Sayangnya itu hanya slogan. Pada nyatanya, kita harus mengais-ngais mencari sebutir emas yang emasnya telah hilang diambil orang. Dan kita diam saja.

Ada apa dengan Indonesia ini? Apa yang bisa kita banggakan atas tempat kita lahir, hidup, bernafas dan sampai mati nanti?
Mau bicara tentang iklim politik? Jawabannya pasti tidak.
Unggul dalam Science dan Ilmu Pengetahuan ilmu-ilmu murni? Juga sulit. Masih ingat nama SRIWIJAYA. Sriwijaya kononnya menurut sejarah adalah pusat ilmu pengetahuan dunia. Bahkan negara tetangga kita. Malaysia, sebelum maju sekarang ini, guru-gurunya dari Indonesia. Mahasiswanya juga belajar di Indonesia.
Hebat dalam teknologi? Tidak mungkin bersaing meskipun dengan bangsa Asia Tenggara sekalipun.
Militer? Meskipun dalam jumlah tentara Indonesia sangat besar, tapi tidak disukung oleh manajemen dan peralatan yang memadai.
Dalam Ekonomi? Semua orang pasti tertawa. KKN dimana-mana dan makin sulit dibasmi. Terdengar sangat pahit jika Indonesia menduduki peringkat ke-3 dari daftar negara korup di dunia.
Olah Raga? Beberapa bagian memang memiliki keunggulan, seperti Bulu Tangkis, Catur, dll. Yang lain.. seringkali dibuat tak berkutik. Ajang olah raga yang disebut SEA GAMES, awalnya Indonesia selalu tercatat yang tertinggi.
Lalu … apalagi yang bisa kita banggakan? Jawabannya tak lain BUDAYA nya atau bisa disebut SENI BUDAYA. Memang itulah yang mungkin menjadi daya tarik Indonesia di mata dunia. Tapi sayangnya, ini tidak merata. Bahkan orang amrik sana banyak yang tidak tahu Indonesia. Sebelah mananya Bali? Hah…????
Ketika kemarin menyaksikan sebuah event International di Yogyakarta, Festival Gamelan, saya begitu terperanjat menyaksikan orang-orang asing (USA, Kanada, Australia, Korea, Jepang, Malaysia, dll) memainkan gamelan jawa secara utuh dan begitu fasih. Tetapi memang beberapa pemain lokal juga turut membantu. Secara performance, mereka betul sangat menguasasi. Muncullah disana gamelan-gemelan yang berdialek Barat. Dan saya sempat memiliki sebuah CD Audio Gamelan Jawa made in Kanada. Sangat ironis sekali. Ketika kita berbangga dengan nilai-nilai budaya kita, di lain pihak orang-orang asing mengeksplorasi budaya kita. Anda tahu, Batik yang merupakan pewarisan nenek moyang kita berabad-abad yang lalu, kini diklaim Malaysia sebagai budaya Malaysia, dan didaftarkan pada asosiasi Hak Cipta International. Lama kelamaan, barangkali akan muncul gamelan made in USA, merk KORG, atau made japan bermerek Yamaha. He..he…

Apa yang harus kita perbuat dengan bangga sebagai orang Indonesia? Paling tidak harus ada usaha mendorong semua pihak lebih apres terhadap budayanya sendiri. Siapa lagi kalau tidak kita yang harus mengusung nilai budaya Indonesia. Dan kita bangga sebgai orang Indonesia.

INDONESIA.. MERAH DARAHKU.. PUTIH TULANGKU..BERSATU DALAM SEMANGATKU…..!!!!