PILKADA OH PILKADA…

Atas nama demokrasi terbuka, Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah baik di tingkat propinsi maupun di kabupaten/kota muncul sebagai fenomena baru di tanah air ini. Untuk apa? Tidak lain hanya untuk memilih satu dari pasangan calon yang diusung partai. Efektifkah?

Mari kita renungkan sedikit tentang berapa besar dana yang dihabiskan untuk satu kali pilkada di satu kota atau kabupaten. Satu pasangan calon akan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Isunya bisa mencapai kisaran 3 sampai 5 M. Belum lagi bila para calon menjual pesona melalui media televise. Kabarnya sekali tayangan bisa berharga puluhan juta. Dari mana uang yang begitu besar itu? Bisa saja dari kantong pribadi (jika memang kaya) atau sokongan para donasi yang tentunya biasanya tidak gratis. Ada kontrak politis. Lalu biaya yang dibutuhkan untuk sekali Pilkada itu berapa di tingkat kota/kab? Kabarnya bisa mencapai 30 M yang dananya bersumber dari ABPD setempat. Lalu bagaimana jika ini di tingkatan yang lebih tinggi, di tingkat propinsi. Pasti akan berlipat-lipat. Tergantung luas propinsi, jumlah pemilih, dll. Sekarang, berapa banyak kab/kota di Indonesia. Sekitar 200 kab/kota. Wow… sebuah angka yang fantastis jika itu semua kita kalikan.

Pertanyaannya apakah ,menjamin terselenggaranya Pilkada di dejumlah daerah akan memajukan daerah itu. Apakah sebanding nilai uang yang dikeluarkan dengan hasil yang dicapai (walikota/bupati baru atau gubernur baru). Apa dampak yang mengarah kepada sesuatu hal yang positif  bagi masyarakat di daerah itu. Tak ada yang bissa menjawab!! Dan tidak tidak lain hanya penguasa baru.

Dana yang begitu mengalir itu, tentunya luar biasa. Jika dibandingkan tingkat kesulitan hidup masyarakat yang terus menerus didera kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok, tentunya sangat ironis. Di lain pihak masyarakat kita berusaha survivel (bertahan hidup), pilkada dengan dana yang luar biasa ini hanya memberi jalan kepada para penguasa baru untuk berlomba-lomba meraih keuntungan dari jabatan barunya.

Kembali masyarakat dihadapkan pada janji-janji manis para jargon nya yang tak kunjung terpenuhi. Sementara para penguasa baru memperluas kongsinya untuk mengembalikan semua hutang yang ditinggalkan dari pilkada. Mungkin beruntunglah jika calon memang terpilih dalam proses itu. Lalu bagaimana yang kalah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s