BERSIAPLAH MENERIMA KOMERSIALISASI PENDIDIKAN

Iklan di media televisi kita “kalau ayahnya tukang antar koran, anaknya bisa jadi wartawan“. Iklan tersebut penggambarkan bagaimana usaha pemerintah menempatkan pendidikan sebagai program unggulan.

Tetapi apakah ini memang sesuai kenyataan ?

Pertama. Mari kita lihat sekeliling kita. Bagaimana  saat ini seluruh Orangtua gelisah menantikan masuknya tahun ajaran baru. Selain kegelisahan akan sistem penerimaan siswa baru (PSB), pastilah yang berikutnya adalah persoalan biaya. Mungkin untuk SD dan SMP masih ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk menggantikan DSP dan SPP. Artinya sekolah masih bisa di gratiskan. Tetapi di tingkat SMA tidak. Di SMA masih dipersilakan kepada sekolah untuk mencari sumbangan (DSP) dari orangtua siswa. Besarnya biasanya ditetapkan oleh sekolah bersama para orangtua siswa melalui jalan musyawarah. Yang berikutnya adalah bagaimana melengkapi seluruh kebutuhan putra-putrinya. Mulai dari seragam sekolah, tas, buku, dll…. Biasanya para vendor berlomba-lomba menawarkan semua itu dengan janji-janji yang manis.

Jadi siapa bilang sekolah itu GRATIS…!!??

Kedua. Sekarang menjadi sebuah symbol untuk mengangkat predikat sekolah. Sekolah-sekolah berstatus negeri berlomba-lomba untuk menempelkan label-label tambahan di belakang nama sekolah tersebut. Label itu diantaranya : SSN (Sekolah Standar Nasional), RSBI /SBI (Rencana Sekolah Bertaraf Internasional), SKM (Sekolah Kategori Mandiri), dll. Ini  sangat memusingkan masyarakat/orangtua. Untuk apa? Idealnya memang untuk mengangkat harkat pendidikan yang dikelola sekolah. Kenyataannya sama-sama saja. Produk siswa juga tidak terangkat karena label-label itu. Yang lebih menyedihkan lagi, sekolah-sekolah yang telah berlabel, diperbolehkan untuk memilih siswanya sendiri melalui program tes khusus (???). Lalu setelah dinyatakan diterima, siswa dikenakan biaya yang khusus. Kabarnya di salah satu sekolah di Bandung (SMA) menetapkan tarif sebesar 8 juta rupiah. Wow…? Jumlah yang tidak sedikit. Ini hampir menyerupai cara2 Perguruan Tinggi Negeri menerima mahasiswa melalui jalur tes khusus, di depan sebelum mahasiswa reguler. Setelah dinyatakan diterima, tanyakan saja berapa biaya yang harus dikeluarkan. Padahal… semuanya sama-sama sekolah negeri. Sekolah yang di biayai keringat rakyat Indonesia melalui pajak.

Saya secara pribadi agak pesimis apakah memang betul biaya-biaya yang tinggi itu akan mengangkat derajat pendidikan kita.  Kelulusan siswa saja masih harus melalui konversi angka…

Jadi… BERSIAPLAH UNTUK MENERIMA KENYATAAN, KOMERSIALISME DALAM PENDIDIKAN KITA….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s