Negri Tawuran

Dalam dongeng pewayangan, kita tak asing diajari dengan pertikaian antara Kurawa dan Pandawa yang berakhir dengan kemenangan di pihak kebaikan. Lalu Majapahit pun pecah dipicu oleh pemberontakan, dan mungkin juga di era pasca kemerdekaan pun negeri ini dihiasi dengan berbagai persoalan ideologi. Dan seterusnya…

Di era yang notabene dipenuhi dengan atribut moderenitas, tawuran pun merebak menghiasi perjalanan negeri ini. KPK vs DPR, KPK vs Polri, hingga di tingkat yang terbawahpun tidak ada henti-hentinya cerita tentang tawuran, seperti : antar kampung yang dipicu persoalan sepele, nonton organ tunggal atau pentas dangdut. Kota yang megah dan metropolis, Jakarta dilengkapi pula tawuran antar preman yang berebut lahan dan kekuasaan. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah TAWURAN PELAJAR yang umumnya diberitakan di kota Jakarta dan kota satelit di sekitarnya (Bogor, Bekasi, Tangerang, dll).

Pola tawuran pun ala Barbar… Kabut kegelapan menyelimuti isi kepala anak-anak yang boleh dibilang dalam proses pertumbuhan dan kematangan berpikir atau kedewasaan. Tanpa belas kasih sedikitpun, samurai, golok, pisau lipat, silet, tongkat, rantai bermata gir, apalagi bebatuan siap untuk dihantamkan siapa saja yang ada dihadapannya. Padahal anak-anak itu, beberapa diantaranya masih bercelana pendek alias SMP. Korbanpun banyak berjatuhan di jalanan baik luka ataupun mati. Dan sudah sekian banyak para orangtua yang menangisi nasib tragis anak-anaknya. Dan orangtua pun berdalih, anak-anak kami di rumah baik-baik saja. Entah sampai kapan ini dapat berhenti… Saling tudingpun dilimpahkan ke berbagai pihak, termasuk pendidikan, agama, pemerintah, polri, dll… Secara pribadi tak ada satupun sekolah yang mengajari tentang keburukan.  Apalagi kaum agamis, di masjid-masjid, di gereja2, di kuil ataupun pura, pasti mengajarkan tentang nilai-nilai hubungan kemanusiaan yang baik dengan siapapun. Dan saya percaya itu. Lalu apa di balik semua itu??? Figur keteladanan bangsa tak ada lagi…

Oh negeriku… negeri yang memiliki moto indah.. tentram, damai, loh jinawi…. kini hanyalah slogan manis tanpa ruh dan jiwa… Bhineka Tunggal Ika yang kuat dalam cengkraman garuda itu, sampai kapan akan mampu bertahan saat kini manusia negeri ini masuk dalam kotak-kotak , yang satu dengan yang lainnya merasa lebih hebat.  Negri yang terkenal keramah tamahannya oleh tamu-tamu kita (wisman), senyum menjadi bahasa keterpaksaan yang menjual.  Saya secara pribadi adalah seorang pendidik dan sekaligus pekerja di bidang musik, dengan nyanyian semua orang akan menjadi indah yang dibaluti rasa kebersamaan. Pikiran bersih dan darah yang mengalir dalam nadi-nadi kita, menggetarkan sebuah keindahan. BERNYANYILAH….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s