Nasionalisme di kalangan Pelajar

Saya yang memang sebagai pendidik di sebuah SMA di Bandung, sebagai seorang guru tentunya hampir selalu seminggu sekali harus mendampingi para siswa berbaris di sebuah ritual sekolah yang namanya ‘Upacara Bendera’. Upacara…? Hm.. kata yang dimaknai dengan penuh aturan yang kaku, cenderung berada di bawah panji kedisiplinan. Berdiri tegak di bawah terik matahari, tanpa bicara, tatapan condong ke depan. Bagi siapa saja tentunya ini akan menjadi beban meskipun hanya berlangsung 30 menit. Menyebalkan…
Pertanyaannya ‘Buat apa…?’
Saya sendiri koq bingung pertanyaan ini. Yaaa… paling tidak mereka yang berdiri disana supaya tidak kosong, harus bisa menikmati seperti nonton pertunjukan musik..??!!@@# Ya nggak bisa bisa dong.. mereka kan harus berlatih disiplin, belajar menghargai, dan yang paling penting tumbuh rasa ‘nasionalisme kebangsaan’. Apa itu bisa? Coba saja murid-murid sekarang, pernahkan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ dengan gegap gempita? Wah.. jarang.. itu hanya bisa ditemukan di upacara di tingkat nasional. Lagu yang seharusnya menjadi simbol heroisme kepahlawanan, rasanya hanya keluar dari mulut dengan sedanya. Lalu, ketika bendera itu dikibarkan, penghormatan pun hanya sekedar formalitas tangan menyentuh dahi. Lalu apa makna semua itu ?
Nasionalisme di kalangan para remaja atau anak sekolah sudah mulai memudar. Benarkah mereka bangga menjadi bagian dari ‘Indonesia’ ? Ataukah sudah tidak ada yang peduli lagi pada tempat kita ini? Indonesia tidak butuh penghormatan, tetapi lebih dari itu, yaitu ditanamkan dalam-dalam di seluruh darah yang mengalir di tubuh kita.

Iklan

Telepon Neraka Tarif Lokal

Pada suatu pertemuan di Washington seorang pejabat Indonesia bertemu dengan pengusaha raksasa produsen telpon genggam. Cerita punya cerita sang produsen menawarkan produknya, sebuah HandPhone GSM yang bisa digunakan menghubungi kemana saja termasuk ke surga dan neraka.

Pejabat tersebut akhirnya mencoba menghubungi istrinya yang pertama yang telah meninggal akibat stroke setelah salah makanan….termasuk makan uang hasil korupsi sang suami.

Sang pejabat tersebut bertanya pada si Amerika ini, tentang berapa harus membayar untuk pembicaraan 3 menit tadi. Teryata mahal juga, sang pejabat harus membayar US$200. wah mahal juga tapi tak apalah …

Akhirnya Sang Pejabat tertarik membeli HP sejenis dan membawanya pulang ke Indonesia. Sampai di Indonesia dia menghubungi sang istrinya yang sudah meninggal tadi. Setelah berbicara hampir 1 jam dicek bahwa pembicaraan itu hanya menghabiskan US$10. Langsung dia menghubungi Si Amerika tadi: “Hai yang bener aja kemarin di Amerika saya pakai cuma tiga menit harus bayar US$200, mahal bener barusan di sini saya coba pakai 1 jam cuma US$10.” Si Amerika dengan santainya menjawab, “Ya tentu saja…Indonesia khan dekat dengan neraka, tarifnya mungkin lokal

Krisis Identitas Indonesia

Ketika saya menonton sepak bola piala Asia beberapa waktu yang lalu, Indonesia vs Arab Saudi, kata “INDONESIA” begitu membahana di seluruh area pertandingan. Puluhan ribu orang meneriakkan kata “Indonesia” dengan penuh heroik menyemangati tim Indonesia yang sedang bertarung. Rasanya bulu roma ini ikut berdiri. Di akhir cerita, Indonesia kalah terhormat dengan skor 2-1 ditangan tim Arab Saudi yang notabene Arab Saudi memang lebih unggul dalam segala hal.¬† Berlanjut dari sana, banyak orang begitu memuji perjuangan yang dilakukan oleh tim Indonesia.

Lalu saya teringat sebuah lagu karya almarhum Gombloh, yang syairnya “Indonesia, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatku, dst…”. Hm… seandainya itu semua memang benar-benar ada dan bukan euforia sesaat, bangsa ini sebenarnya sangat luar biasa. Jangan lupa Indonesia sebagai pewarisan dari Nusantara memiliki semuanya. Cerita yang sangat manis terdengar, Indonesia itu ibaratnya Zamrud Khatulistiwa. Begitu nyanyian alm Chrisye yang sangat mempesona. Dan saat kita kecil, di sekolah terus menerus diajarkan oleh guru-guru kita nyanyian-nyanyian pujian terhadap tanah ini. Indonesia yang negrinya makmur sentosa, alamnya kaya melimpah ruah, rakyatnya ramah dan rukun, hidup loh jinawi. Sayangnya itu hanya slogan. Pada nyatanya, kita harus mengais-ngais mencari sebutir emas yang emasnya telah hilang diambil orang. Dan kita diam saja.

Ada apa dengan Indonesia ini? Apa yang bisa kita banggakan atas tempat kita lahir, hidup, bernafas dan sampai mati nanti?
Mau bicara tentang iklim politik? Jawabannya pasti tidak.
Unggul dalam Science dan Ilmu Pengetahuan ilmu-ilmu murni? Juga sulit. Masih ingat nama SRIWIJAYA. Sriwijaya kononnya menurut sejarah adalah pusat ilmu pengetahuan dunia. Bahkan negara tetangga kita. Malaysia, sebelum maju sekarang ini, guru-gurunya dari Indonesia. Mahasiswanya juga belajar di Indonesia.
Hebat dalam teknologi? Tidak mungkin bersaing meskipun dengan bangsa Asia Tenggara sekalipun.
Militer? Meskipun dalam jumlah tentara Indonesia sangat besar, tapi tidak disukung oleh manajemen dan peralatan yang memadai.
Dalam Ekonomi? Semua orang pasti tertawa. KKN dimana-mana dan makin sulit dibasmi. Terdengar sangat pahit jika Indonesia menduduki peringkat ke-3 dari daftar negara korup di dunia.
Olah Raga? Beberapa bagian memang memiliki keunggulan, seperti Bulu Tangkis, Catur, dll. Yang lain.. seringkali dibuat tak berkutik. Ajang olah raga yang disebut SEA GAMES, awalnya Indonesia selalu tercatat yang tertinggi.
Lalu … apalagi yang bisa kita banggakan? Jawabannya tak lain BUDAYA nya atau bisa disebut SENI BUDAYA. Memang itulah yang mungkin menjadi daya tarik Indonesia di mata dunia. Tapi sayangnya, ini tidak merata. Bahkan orang amrik sana banyak yang tidak tahu Indonesia. Sebelah mananya Bali? Hah…????
Ketika kemarin menyaksikan sebuah event International di Yogyakarta, Festival Gamelan, saya begitu terperanjat menyaksikan orang-orang asing (USA, Kanada, Australia, Korea, Jepang, Malaysia, dll) memainkan gamelan jawa secara utuh dan begitu fasih. Tetapi memang beberapa pemain lokal juga turut membantu. Secara performance, mereka betul sangat menguasasi. Muncullah disana gamelan-gemelan yang berdialek Barat. Dan saya sempat memiliki sebuah CD Audio Gamelan Jawa made in Kanada. Sangat ironis sekali. Ketika kita berbangga dengan nilai-nilai budaya kita, di lain pihak orang-orang asing mengeksplorasi budaya kita. Anda tahu, Batik yang merupakan pewarisan nenek moyang kita berabad-abad yang lalu, kini diklaim Malaysia sebagai budaya Malaysia, dan didaftarkan pada asosiasi Hak Cipta International. Lama kelamaan, barangkali akan muncul gamelan made in USA, merk KORG, atau made japan bermerek Yamaha. He..he…

Apa yang harus kita perbuat dengan bangga sebagai orang Indonesia? Paling tidak harus ada usaha mendorong semua pihak lebih apres terhadap budayanya sendiri. Siapa lagi kalau tidak kita yang harus mengusung nilai budaya Indonesia. Dan kita bangga sebgai orang Indonesia.

INDONESIA.. MERAH DARAHKU.. PUTIH TULANGKU..BERSATU DALAM SEMANGATKU…..!!!!

Kehidupan tak pernah berhenti untuk diungkap